Friday, February 29, 2008

KE JAKARTA?

Apa yang aku bisa lakukan saat ini?
Selain sedikit bercerita, tak ada
Maka dari sinilah kumulai cerita itu…

Kami duduk berdua. Tak hirau beberapa pasang kaki berisik menyentuh lantai.
Boleh jadi dia suka ngobrol denganku. Ada binar-binar semangat yang dapat kutangkap setiap aku melihat matanya.
“Belum lama aku mendapat tawaran di Jakarta,” kalimat ini nyambung dengan topik kami sebelumnya.
“Tetapi aku menolak tawaran itu,” lanjutnya kemudian. Aku belum paham ke mana ia akan membawa arah pembicaraan.
“Aku bilang pada calon bosku, perusahaan Bapak bisa saja membayar tenaga dan pikiran saya, tetapi perusahaan Bapak tidak bakal sanggup membayar biaya psikologis yang saya butuhkan bila saya hidup di Jakarta.”
Aku tertegun beberapa saat dengan tetap berusaha memahami tatapan matanya…

Pikiranku terbang ke sebuah kota kecil yang pengap, Serang. Kuhabiskan waktuku di sana. Hingga suatu saat aku menemukan diriku yang compang-camping.
Angkuh, barangkali itulah label yang pas buatku. Ketika teman-teman lain sibuk mengurus segala tetek-bengeknya untuk memperoleh rumah dan sepeda motor, aku malahan gelisah. Gelisah untuk pulang. Kegelisahan ini pula yang pada akhirnya mengantarku meninggalkan Cilegon meski sejujurnya, separuh hatiku (ketika itu) masih tertinggal di sana. Dan sebagai pengumuman, kegelisahan itu telah merampas dua tahun perjalananku.

Impianku tidak muluk-muluk, menghabiskan sisa hidupku di Jogja sembari berusaha merubah nasib. Entah mengapa, hingga kini masih teronggok keyakinan bahwa Jogja bakal memberiku sesuatu yang sublim. Selain, -ini alasan yang paling tidak bermutu- aku ingin lebih dekat dengan seni dan budaya, syukur-syukur bisa kerasukan olehnya.

Ah, bukankah yang sublim menjadi terlalu mahal? Ya, amat mahal bahkan hingga tak lagi bisa ditukar dengan materi. Pesangonku habis untuk memburu kebahagiaan sementara dan bisnis kecil yang emosional itu. (Lagi-lagi) di Jakarta kubayar semua kesenangan yang ada di depan mata, di Serang sampai perlu pinjam rumah teman untuk bisa berduaan, dan di Jogja usaha kecilku gagal total karena tak terurus dan sedikit rezeki yang tersisa ludes.
Ludes tuntas hingga untuk punya sepeda motor butut pun harus berutang. Aku hanya mampu terdiam kala itu, teringat impian dan niatku untuk melanjutkan belajar.

Sampai di sini aku teringat pada suatu malam ketika seorang sahabat mengggedor hatiku, “ketika kamu merasa terpuruk menunduklah! Lihatlah mereka, ada banyak yang jauh lebih menderita dari kita, lebih terpuruk dari kita. Dan selagi kamu bermimpi, tengadahkan kepalamu agar kamu belajar melihat bukan pada yang di bawah, tetapi pada yang di atas.”

Baik, aku menuruti nasehatmu. Dengan menunduk aku bisa melihat keadaan sesama yang menderita, yang terpuruk. Dengan menunduk aku bisa sedikit bersyukur atas semua yang sudah kuperoleh. Berbagai peristiwa, kesempatan, kehadiran orang-orang terkasih, hingga sepeda motor butut yang meski harus kudapatkan dengan berutang. Apa yang tak bisa disyukuri? Tidak ada! Berbagai peristiwa pada akhirnya membuatku belajar. Kesempatan yang datang pada gilirannya mampu melegakan dahagaku. Orang-orang terkasih pada waktunya menguatkanku. Dan sepeda motor butut itu pada akhirnya bakal menjadi sejarah karena sanggup mengantarku menuju Solo, Semarang, Salatiga dan menjadikan aku bertahan hingga detik ini untuk terus berjuang. Ia juga, dengan setia, membawaku bertemu para dewa pujaanku: keyakinan, harapan, serta sekali lagi, impian kecilku...

Menjelang aku terlelap tanpa berdoa, 28 Februari 2008

TEMPO yang tetap TEMPO

Suatu hari di toko buku, saya terperanjat oleh sampul depan sebuah majalah terkemuka nasional. TEMPO tampil dengan gambar keluarga Cendana dalam versi Perjamuan Terakhir Tuhan Yesus karya Leonardo Da Vinci. Karena ada yang lebih penting, majalah itu tidak saya sentuh. Baru keesokan paginya teman-teman heboh berbincang soal cover itu. Bos langsung saya sms. Balasnya, “saya sudah tau n sudah di demo. Di sini habis, tolong carikan.” Terdorong oleh rasa penasaran sekaligus tugas yang harus tunai, siang itu juga seluruh Semarang saya ‘ublek-ublek’. Upaya sungguh-sungguh takkan pernah sia-sia. Belum sampai setengah hari tuntas sudah seluruh isinya.

Bukan tanpa pertimbangan bila TEMPO tampil istimewa pada edisi khusus tentang Soeharto dan bertajuk SETELAH DIA PERGI itu. Dengan tim liputan yang sempat bongkar pasang -kalau tidak keliru tim dibentuk dari tahun 2006 sejak Soeharto pertama kali masuk rumah sakit dan dikomandani Bambang Harimurti, kini diganti Toriq Hadad- akibat kondisi Soeharto yang tidak stabil, TEMPO memang menyajikan suatu gambaran yang utuh, proporsional, dan kritis tanpa menuduh tentang drama kehidupan, jalan panjang berliku, hingga saat-saat terakhir menjelang Soeharto dikebumikan. Pun keluarga besarnya. Cerita orang-orang dekat: juru foto, ajudan, staf pribadi, dan masih banyak yang lain menjelaskan betapa Soeharto tak lain adalah anak manusia. Pendeknya, dari beberapa media yang menurunkan berita yang nyaris sama pascakematian Soeharto, hanya TEMPO-lah yang paling tidak ecek-ecek. Dengan gaya khasnya yang nakal, usil, sekaligus keras menjitak, TEMPO berhasil membawa Soeharto yang utuh ke ranah publik.

Lantas apa yang terjadi pada gereja berkait cover versi The Last Supper itu? Beberapa perwakilan umat Katolik memang mendatangi TEMPO dan menyatakan keberatan. Pihak TEMPO cukup kooperatif dalam hal ini. Dalam edisi selanjutnya TEMPO memajang permohonan maaf dan meluruskan apa yang berkembang di tengah umat Katolik.

Ignatius Haryanto dalam kolomnya di Majalah HIDUP, mencoba menjadi penengah dengan amat bijak. Lukisan Da Vinci, menurut Haryanto, bukan suatu ornamen keagamaan atau bagian yang sakral dari gereja. Hanya saja lukisan ini sudah sejak dulu dicitrakan sebagai bagian tak terpisahkan dari gereja. Karena alasan inilah mengapa ada banyak gambar Perjamuan Terakhir tergantung dengan agungnya di ruang-ruang tamu umat beriman. Apa yang dilukiskan oleh Da Vinci tak lebih dari sebuah ekspresi artistik yang menggambarkan dunia keagamaan sebagaimana ditafsirkan sang pelukis. Berikutnya Haryanto mengatakan bahwa dalam wilayah ilmu komunikasi, masalah ini menyangkut soal tafsir. Kita tahu tafsir berhak atas jangkauan yang tak terbatas. Mengutip pernyataan sikap Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Haryanto menyebut sebagai sangat tepat. KWI menyayangkan cover itu, namun tak perlu memperpanjang persoalan.

Jelas sudah dan tak ada yang perlu dicemaskan. Saya sangat lega ketika usai membaca seluruh isinya. Antara puas dan sedikit lebih mengerti tentang Soeharto. Saya jusru kagum dengan ‘ide’ yang tiba-tiba berkelebat dalam benak kreatornya. Ide inilah yang belakangan menjadi sangat mahal dan bisa menghasilkan duit. Saya yakin TEMPO tidak dalam kapasitas mengejek atau mendiskreditkan suatu kelompok tertentu ketika memutuskan membuat cover itu. TEMPO juga, saya percaya, sangat berhati-hati dalam berbagi ilmu dan berita kepada khalayak. Insiden ditonjoknya Bambang Harimurti
–pemimpin redaksi ketika itu- dalam kasus diturunkannya berita tentang terbakarnya Pasar Tanah Abang dan konon melibatkan Pengusaha Tomy Winata, rasanya sudah cukup menjadi pelajaran berharga. Ide brilian cover dengan versi The Last Supper itulah yang sungguh saya kagumi. Maka, tidak berlebihan bila Pendeta Daniel Taruli mengatakan, “….menghadapi sindiran majalah itu, saya dan kita seharusnya tersenyum (meski dengan muka memerah) dan bukannya marah-marah. Apalagi tanpa membaca laporan yang ada di balik cover majalah itu”. Anda tepat, Pak Pendeta. Selain beriman kita kudu dewasa dalam menyikapi sesuatu, bukan begitu?

Semarang, 28 Feb 2008