Bersuara adalah hak bagi setiap orang dan pada akhirnya zaman mengantar pada kesempatan bagi semua orang untuk bersuara. Masih segar dalam ingatan ketika sebuah mingguan terkemuka negeri ini terbentur kokohnya tembok ‘birokrasi’. Pembredelan pun marak terjadi. Yang mencoba lantang dibungkam dan yang berusaha berteriak diberangus. Ketika itu pula, kebenaran seolah ditutupi dan kreativitas sengaja dimandulkan. Sampailah kini, ketika kita boleh melihat yang benar tetaplah benar dan yang keliru tetap tidak bisa dibenarkan. Budaya pada gilirannya akan menggeser banyak hal, tidak terkecuali kebiasaan manusia penghuni jagat ini. Masih juga kabar paling anyar, ketika seorang mantan menteri yang merasa dizolimi membuat semacam pledoi yang dipublikasikan melalui blog pribadinya tidak lama setelah dia dilengserkan. Dengan lugas sang mantan menteri itu mengatakan bahwa ada banyak hal yang tidak sampai ke publik. Boleh jadi yang ditulisnya bukan mewakili ambisinya untuk merebut kembali kursi empuk itu, tetapi lebih pada niatnya membeberkan semua yang terjadi, dialami, dan dirasakannya. Sebenar-benarnya. Blog sudah menjadi ajang bagi sebagian orang untuk berbagi. Dia juga mampu menjadi tempat untuk menampung teriakan, umpatan, dan makian bagi sebagian orang yang tidak puas terhadap sesuatu, kebijakan pemerintah misalnya. Pendeknya, dia mampu merepresentasikan si pemiliknya. Sah-sah saja. Dan tidak ada yang keliru di sini.
Atas pertimbangan inilah yang tidak ada saya adakan. Yang semula saya simpan saya keluarkan. Yang tadinya tiada dan belum ada saya adakan. Supaya menjadi ada.
Sunday, December 30, 2007
Sunday, December 23, 2007
Refleksi
DUA ORANG YANG BERBINCANG DI DALAM GEREJA
Gunt.Ant
Misa dimulai. Ini adalah hari Minggu biasa entah yang keberapa. Seperti juga biasanya umat membeludak sampai halaman depan. Meski ada dua kali misa pada setiap hari Minggu, bangunan lawas yang masih tampak kokoh itu selalu penuh. Ini menggembirakan, umat terus berkembang tidak hanya dari sisi jumlah, namun juga kesadaran betapa hari Minggu adalah waktu untuk Tuhan dan untuk keluarga tentunya setelah selama sepekan semua bergelut dengan kehidupan.
Wajah-wajah penuh syukur dan bahagia itu jelas terpancar dari mereka yang memenuhi gereja pagi ini. Tetapi tidak denganku. Rasanya seperti ada yang tidak biasa dan itu aku rasakan setelah aku selesai berdoa dan ingin mempersiapkan konsentrasiku. Boleh jadi aku keliru mengambil tempat duduk. Maksud hati ingin mendapat udara segar dari jendela besar yang langsung menghadap ke halaman samping, aku malah berada dalam posisi yang amat tidak nyaman. Aku berada di deretan paling pinggir sementara di sebelah kananku duduk sepasang, entah kekasih atau suami istri yang sejak lonceng berbunyi sudah mulai sibuk berbincang.
Mungkin mereka baru bertunangan, atau berpacaran tetapi sudah mengarah pada niat yang lebih jauh. Ini terlihat dari wajah dan cara mereka saling berbicara. Keduanya juga tampak belum membawa siapa-siapa, anak maksudku. Yang perempuan tampak menjengkelkan sekali. Dengan yu ken si merah muda yang melapisi kulit putihnya, dia tampak kemayu. Mau tak mau aku penasaran. Ini lumrah kiranya. Aku laki-laki. Perempuan itu terus mendekatkan mulutnya ke telinga pasangannya dan membisikkan sesuatu. Sekali lirik aku berhasil memastikan bahwa wajahnya tidak cantik tetapi cukup menarik. Bila kemudian menjadi kian menarik karena wajah yang hanya disaput bedak tipis itu mirip dengan seseorang yang pernah kukenal. Kukenal sangat dekat. Yang goblok laki-lakinya, batinku memaki-maki. Masak dia hanya manggut-manggut dan sesekali malah tampak menjawab sambil berbisik-bisik pula. Huh, dasar! Bukannya dinasehati supaya tenang dan menghormati yang lain, malah diladeni perempuan cerewet itu. Aku melirik sekali lagi.
Kemuliaan tiba. Baru tahu mereka rupanya bahwa kini mereka sedang menghadapi kebesaranNya sendiri. Aku memerhatikan ketika mereka berpura-pura khidmat dan larut dalam syair kemuliaan yang agung itu.
Umat macam apa ini? Masak berpura-pura di hadapan Tuhan? Aku geleng-geleng kepala meski aku yakin gelengan kepalaku tidak tampak oleh orang-orang di sekitarku. Bisa-bisa aku dikira tidak waras bila orang-orang melihatku tengah geleng-geleng kepala.
Mereka memang tidak tahu diri. Setelah kemuliaan dan doa pembukaan si perempuan kembali berbicara sementara di mimbar lektor sudah bersiap membacakan firman Tuhan. Mereka pasti membicarakan lektor itu. Dan benar. Kali ini si laki-laki yang ngomong sembari mendekatkan moncongnya ke telinga si perempuan. Mereka saling berpandangan satu sama lain sebelum perempuan itu cekikikan hingga badannya bergoyang-goyang kecil. Keterlaluan!
Laki-laki itu tampaknya mulai menyadari bahwa mereka tidak saja tidak memerhatikan firman itu, tetapi bisa mengganggu umat yang lain “Ssssttt…” Telingaku menangkap dengan jelas laki-laki itu memperingatkan perempuan di sebelahnya. Mataku juga masih sempat melihat ketika perempuan itu disikutnya pelan. Kini mereka diam. Dengan sedikit menengadah laki-laki itu seperti memejamkan matanya. Halah gombal! Umpatku melihat tingkahnya.
Aku tidak keliru. Ketika laki-laki itu membuka kembali matanya, dia kembali tersenyum dan mereka kembali larut dalam perbincangan. Aku tidak habis mengerti, punya niat apa mereka ke gereja pagi ini. Sekedar cari tempat untuk bercanda ria atau mereka tidak menyadari bahwa kini sedang di dalam gereja dan Tuhan ada di tengah-tengah umatNya?
Umat berdiri. Aku berharap bacaaan Injil akan menyadarkan mereka dan keduanya akan dengan penuh perhatian menyimaknya. Ini bukan firman Tuhan yang biasa kita dengar dari para lektor yang kadang terlalu datar dan membosankan itu. Ini sungguh firman Tuhan yang terdengar melalui romo yang memimpin misa. Jadi Tuhan sendiri yang berfirman. Untuk mendengarkannya pun umat harus dalam posisi berdiri sebagai bentuk penghormatan dan gereja hendaknya sunyi kecuali firman Tuhan yang terus bergema. Mereka hendaknya tahu itu. Aku yakin mereka sadar akan hal itu.
Benar mereka berdiri dan tampak menyimak tetapi aku tahu dengan kedua mataku dan mendengar dengan jelas dengan kedua kupingku mereka tetap berbincang. Bahkan tampak semakin asyik dengan posisi mereka yang bediri. Yang satu dengan sedikit jinjit berbisik-bisik sembari cengengas-cengenges, satunya lagi menyimak, manggut-manggut sambil sesekali tersenyum kecil. Ya Tuhan, ampuni mereka yang tidak mau lagi mendengar sapaanMu. Apa yang harus kuperbuat untuk kedua orang ini?
Homili tiba. Aku masih tetap menunduk sambil terus memantau mereka. Di mana-mana selalu sama ketika romo berkhotbah. Mereka yang datang di gereja berpasangan biasanya akan menggunakan kesempatan ini untuk sekedar ngobrol ringan tentang apa saja. Dari mengomentari jalannya misa hingga membicarakan orang lain di sekitarnya. Suatu ketika pernah kulihat persis di depanku seseorang yang mengeluarkan telepon genggamnya dan tampak serius memencet-mencet benda itu dengan ibu jarinya.
Dua sejoli di sampingku itu kian tenggelam dalam perbincangan. Mereka terang-terangan ngobrol dan dengan jelas dan aku dapat menangkap pembicaraan mereka. Inikah balasan untuk Tuhan? Aku tidak dapat menjawab rangkaian pertanyaan yang memenuhi kepalaku hingga homili selesai.
Kami kembali berdiri. Syahadat Para Rasul terasa memenuhi setiap sudut gereja. Aku terus mengawasi kedua orang di sampingku yang tampak jauh dari khusuk mendaraskan “Aku Percaya”. Padahal inilah ungkapan kepercayaan yang harus dilantunkan dengan mantap, penuh keyakinan, dan tidak cukup hanya terucap dari mulut, namun dari hati yang paling dalam. Pikiranku kemana-mana. Bagaimana dengan doa-doa yang lain bila ungkapan kepercayaan ini diucapkan tidak dengan sepenuh hati? Mereka jelas-jelas tidak pantas menerima Tubuh dan DarahNya pagi ini. Tuhan jelas tidak berkenan pada mereka berdua.
Mendadak aku terkesiap, suara itu jelas suara Tuhan sendiri: “Akulah roti hidup yang turun dari surga. Barang siapa makan roti ini, akan beroleh hidup yang kekal. Inilah roti hidup itu. Berbahagilah kita yang diundang ke Perjamuan Tuhan…”
Aku tergagap dan baru sadar sepanjang misa tidak memedulikan kedatanganNya. Dengan terbata aku menjawab: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”
“Tubuh Kristus…..”
Ya Tuhan, pantaskah aku menjawabnya? Aku malu. Sedetik kemudian kuputuskan untuk mengatakannya perlahan, “A-min.”
Yogyakarta, Juli 2007
Gunt.Ant
Misa dimulai. Ini adalah hari Minggu biasa entah yang keberapa. Seperti juga biasanya umat membeludak sampai halaman depan. Meski ada dua kali misa pada setiap hari Minggu, bangunan lawas yang masih tampak kokoh itu selalu penuh. Ini menggembirakan, umat terus berkembang tidak hanya dari sisi jumlah, namun juga kesadaran betapa hari Minggu adalah waktu untuk Tuhan dan untuk keluarga tentunya setelah selama sepekan semua bergelut dengan kehidupan.
Wajah-wajah penuh syukur dan bahagia itu jelas terpancar dari mereka yang memenuhi gereja pagi ini. Tetapi tidak denganku. Rasanya seperti ada yang tidak biasa dan itu aku rasakan setelah aku selesai berdoa dan ingin mempersiapkan konsentrasiku. Boleh jadi aku keliru mengambil tempat duduk. Maksud hati ingin mendapat udara segar dari jendela besar yang langsung menghadap ke halaman samping, aku malah berada dalam posisi yang amat tidak nyaman. Aku berada di deretan paling pinggir sementara di sebelah kananku duduk sepasang, entah kekasih atau suami istri yang sejak lonceng berbunyi sudah mulai sibuk berbincang.
Mungkin mereka baru bertunangan, atau berpacaran tetapi sudah mengarah pada niat yang lebih jauh. Ini terlihat dari wajah dan cara mereka saling berbicara. Keduanya juga tampak belum membawa siapa-siapa, anak maksudku. Yang perempuan tampak menjengkelkan sekali. Dengan yu ken si merah muda yang melapisi kulit putihnya, dia tampak kemayu. Mau tak mau aku penasaran. Ini lumrah kiranya. Aku laki-laki. Perempuan itu terus mendekatkan mulutnya ke telinga pasangannya dan membisikkan sesuatu. Sekali lirik aku berhasil memastikan bahwa wajahnya tidak cantik tetapi cukup menarik. Bila kemudian menjadi kian menarik karena wajah yang hanya disaput bedak tipis itu mirip dengan seseorang yang pernah kukenal. Kukenal sangat dekat. Yang goblok laki-lakinya, batinku memaki-maki. Masak dia hanya manggut-manggut dan sesekali malah tampak menjawab sambil berbisik-bisik pula. Huh, dasar! Bukannya dinasehati supaya tenang dan menghormati yang lain, malah diladeni perempuan cerewet itu. Aku melirik sekali lagi.
Kemuliaan tiba. Baru tahu mereka rupanya bahwa kini mereka sedang menghadapi kebesaranNya sendiri. Aku memerhatikan ketika mereka berpura-pura khidmat dan larut dalam syair kemuliaan yang agung itu.
Umat macam apa ini? Masak berpura-pura di hadapan Tuhan? Aku geleng-geleng kepala meski aku yakin gelengan kepalaku tidak tampak oleh orang-orang di sekitarku. Bisa-bisa aku dikira tidak waras bila orang-orang melihatku tengah geleng-geleng kepala.
Mereka memang tidak tahu diri. Setelah kemuliaan dan doa pembukaan si perempuan kembali berbicara sementara di mimbar lektor sudah bersiap membacakan firman Tuhan. Mereka pasti membicarakan lektor itu. Dan benar. Kali ini si laki-laki yang ngomong sembari mendekatkan moncongnya ke telinga si perempuan. Mereka saling berpandangan satu sama lain sebelum perempuan itu cekikikan hingga badannya bergoyang-goyang kecil. Keterlaluan!
Laki-laki itu tampaknya mulai menyadari bahwa mereka tidak saja tidak memerhatikan firman itu, tetapi bisa mengganggu umat yang lain “Ssssttt…” Telingaku menangkap dengan jelas laki-laki itu memperingatkan perempuan di sebelahnya. Mataku juga masih sempat melihat ketika perempuan itu disikutnya pelan. Kini mereka diam. Dengan sedikit menengadah laki-laki itu seperti memejamkan matanya. Halah gombal! Umpatku melihat tingkahnya.
Aku tidak keliru. Ketika laki-laki itu membuka kembali matanya, dia kembali tersenyum dan mereka kembali larut dalam perbincangan. Aku tidak habis mengerti, punya niat apa mereka ke gereja pagi ini. Sekedar cari tempat untuk bercanda ria atau mereka tidak menyadari bahwa kini sedang di dalam gereja dan Tuhan ada di tengah-tengah umatNya?
Umat berdiri. Aku berharap bacaaan Injil akan menyadarkan mereka dan keduanya akan dengan penuh perhatian menyimaknya. Ini bukan firman Tuhan yang biasa kita dengar dari para lektor yang kadang terlalu datar dan membosankan itu. Ini sungguh firman Tuhan yang terdengar melalui romo yang memimpin misa. Jadi Tuhan sendiri yang berfirman. Untuk mendengarkannya pun umat harus dalam posisi berdiri sebagai bentuk penghormatan dan gereja hendaknya sunyi kecuali firman Tuhan yang terus bergema. Mereka hendaknya tahu itu. Aku yakin mereka sadar akan hal itu.
Benar mereka berdiri dan tampak menyimak tetapi aku tahu dengan kedua mataku dan mendengar dengan jelas dengan kedua kupingku mereka tetap berbincang. Bahkan tampak semakin asyik dengan posisi mereka yang bediri. Yang satu dengan sedikit jinjit berbisik-bisik sembari cengengas-cengenges, satunya lagi menyimak, manggut-manggut sambil sesekali tersenyum kecil. Ya Tuhan, ampuni mereka yang tidak mau lagi mendengar sapaanMu. Apa yang harus kuperbuat untuk kedua orang ini?
Homili tiba. Aku masih tetap menunduk sambil terus memantau mereka. Di mana-mana selalu sama ketika romo berkhotbah. Mereka yang datang di gereja berpasangan biasanya akan menggunakan kesempatan ini untuk sekedar ngobrol ringan tentang apa saja. Dari mengomentari jalannya misa hingga membicarakan orang lain di sekitarnya. Suatu ketika pernah kulihat persis di depanku seseorang yang mengeluarkan telepon genggamnya dan tampak serius memencet-mencet benda itu dengan ibu jarinya.
Dua sejoli di sampingku itu kian tenggelam dalam perbincangan. Mereka terang-terangan ngobrol dan dengan jelas dan aku dapat menangkap pembicaraan mereka. Inikah balasan untuk Tuhan? Aku tidak dapat menjawab rangkaian pertanyaan yang memenuhi kepalaku hingga homili selesai.
Kami kembali berdiri. Syahadat Para Rasul terasa memenuhi setiap sudut gereja. Aku terus mengawasi kedua orang di sampingku yang tampak jauh dari khusuk mendaraskan “Aku Percaya”. Padahal inilah ungkapan kepercayaan yang harus dilantunkan dengan mantap, penuh keyakinan, dan tidak cukup hanya terucap dari mulut, namun dari hati yang paling dalam. Pikiranku kemana-mana. Bagaimana dengan doa-doa yang lain bila ungkapan kepercayaan ini diucapkan tidak dengan sepenuh hati? Mereka jelas-jelas tidak pantas menerima Tubuh dan DarahNya pagi ini. Tuhan jelas tidak berkenan pada mereka berdua.
Mendadak aku terkesiap, suara itu jelas suara Tuhan sendiri: “Akulah roti hidup yang turun dari surga. Barang siapa makan roti ini, akan beroleh hidup yang kekal. Inilah roti hidup itu. Berbahagilah kita yang diundang ke Perjamuan Tuhan…”
Aku tergagap dan baru sadar sepanjang misa tidak memedulikan kedatanganNya. Dengan terbata aku menjawab: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”
“Tubuh Kristus…..”
Ya Tuhan, pantaskah aku menjawabnya? Aku malu. Sedetik kemudian kuputuskan untuk mengatakannya perlahan, “A-min.”
Yogyakarta, Juli 2007
Monday, December 17, 2007
Ruang Kecil Ratna
Mari kembali pada awal mula niat bertamu ini.
Suatu hari seorang kawan yang bekerja pada sebuah majalah bulanan memberiku edisi terbaru majalahnya. Tanpa basa-basi kusambar sebelum dia menyerahkan. Dari bacaan gratisan itu aku baru tahu ada sesuatu di dalamnya. Pertama, seseorang yang tulisannya menjadi menu wajib setiap hari Minggu dikupas tuntas sosoknya. Wajah yang sering kucoba lukiskan, meleset terlalu jauh dari foto terbaru orang ini. Tulisannya yang nakal, menggelitik, adakalanya sedikit nyrempet-nyrempet, namun sarat dengan sentuhan-sentuhan kemanusiaan, rasanya memang pas ditulis oleh seseorang yang gambar wajahnya sedang kuamati. Akhirnya sampai juga pencarianku meski dia hanya berupa lembar tipis kertas majalah.
Kedua, seseorang yang karyanya mampu menembus ruang-ruang sempit kehidupan manusia dan mengajak kita masuk dalam ruang sempit itu; mengenal, memahami, hingga pada gilirannya kita digiring untuk memutuskan sendiri yang terbaik bagi kita, ada di dalamnya. Sosoknya sering aku kaitkan dengan nama besar yang kini dia sandang. Pun aku salah menggambarnya. Tuhan hanya memberi dia ruang yang tidak seberapa besar. Akan tetapi Tuhan anugerahkan sesuatu yang mungkin hanya untuknya. Dari sanalah cerita tentang Lipstik Dalam Tas Doni mengalir, mengenalkan kita pada yang semula tidak kita kenal dan mengenalkan kita pada diri sendiri. Doni harus mengakui di depan istrinya, dia tidak sepenuhnya laki-laki. Juga tentang Tina yang diam. Dalam diamnya ada gumpalan amarah yang siap meletup menghancurkan semua sandiwara yang lakoni mamanya. Ah, lagi-lagi perselingkuhan. Ini seperti jamak di zaman sekarang.
Tidak berlebihan bila Budi Dharma mengatakan “….namun, apa pun yang terjadi, dia tidak lepas dari aspirasi perempuan modern, yaitu dilema antara perempuan yang harus mandiri dan perempuan yang harus tunduk pada tradisi.”
Aku harus bertemu denganmu, Mbak….
Kami berbincang di teras. Ada kelegaan yang tidak bisa terkatakan bila pada akhirnya aku dapat bertemu dengan seseorang yang sangat aku kagumi.
Hujan seakan tahu, hari sudah bertangkat malam dan kami harus pulang.
Malang, Desember 2007
Di kediaman Ratna Indraswari Ibrahim
Subscribe to:
Posts (Atom)

