Suatu hari di toko buku, saya terperanjat oleh sampul depan sebuah majalah terkemuka nasional. TEMPO tampil dengan gambar keluarga Cendana dalam versi Perjamuan Terakhir Tuhan Yesus karya Leonardo Da Vinci. Karena ada yang lebih penting, majalah itu tidak saya sentuh. Baru keesokan paginya teman-teman heboh berbincang soal cover itu. Bos langsung saya sms. Balasnya, “saya sudah tau n sudah di demo. Di sini habis, tolong carikan.” Terdorong oleh rasa penasaran sekaligus tugas yang harus tunai, siang itu juga seluruh Semarang saya ‘ublek-ublek’. Upaya sungguh-sungguh takkan pernah sia-sia. Belum sampai setengah hari tuntas sudah seluruh isinya.Bukan tanpa pertimbangan bila TEMPO tampil istimewa pada edisi khusus tentang Soeharto dan bertajuk SETELAH DIA PERGI itu. Dengan tim liputan yang sempat bongkar pasang -kalau tidak keliru tim dibentuk dari tahun 2006 sejak Soeharto pertama kali masuk rumah sakit dan dikomandani Bambang Harimurti, kini diganti Toriq Hadad- akibat kondisi Soeharto yang tidak stabil, TEMPO memang menyajikan suatu gambaran yang utuh, proporsional, dan kritis tanpa menuduh tentang drama kehidupan, jalan panjang berliku, hingga saat-saat terakhir menjelang Soeharto dikebumikan. Pun keluarga besarnya. Cerita orang-orang dekat: juru foto, ajudan, staf pribadi, dan masih banyak yang lain menjelaskan betapa Soeharto tak lain adalah anak manusia. Pendeknya, dari beberapa media yang menurunkan berita yang nyaris sama pascakematian Soeharto, hanya TEMPO-lah yang paling tidak ecek-ecek. Dengan gaya khasnya yang nakal, usil, sekaligus keras menjitak, TEMPO berhasil membawa Soeharto yang utuh ke ranah publik.
Lantas apa yang terjadi pada gereja berkait cover versi The Last Supper itu? Beberapa perwakilan umat Katolik memang mendatangi TEMPO dan menyatakan keberatan. Pihak TEMPO cukup kooperatif dalam hal ini. Dalam edisi selanjutnya TEMPO memajang permohonan maaf dan meluruskan apa yang berkembang di tengah umat Katolik.
Ignatius Haryanto dalam kolomnya di Majalah HIDUP, mencoba menjadi penengah dengan amat bijak. Lukisan Da Vinci, menurut Haryanto, bukan suatu ornamen keagamaan atau bagian yang sakral dari gereja. Hanya saja lukisan ini sudah sejak dulu dicitrakan sebagai bagian tak terpisahkan dari gereja. Karena alasan inilah mengapa ada banyak gambar Perjamuan Terakhir tergantung dengan agungnya di ruang-ruang tamu umat beriman. Apa yang dilukiskan oleh Da Vinci tak lebih dari sebuah ekspresi artistik yang menggambarkan dunia keagamaan sebagaimana ditafsirkan sang pelukis. Berikutnya Haryanto mengatakan bahwa dalam wilayah ilmu komunikasi, masalah ini menyangkut soal tafsir. Kita tahu tafsir berhak atas jangkauan yang tak terbatas. Mengutip pernyataan sikap Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Haryanto menyebut sebagai sangat tepat. KWI menyayangkan cover itu, namun tak perlu memperpanjang persoalan.
Jelas sudah dan tak ada yang perlu dicemaskan. Saya sangat lega ketika usai membaca seluruh isinya. Antara puas dan sedikit lebih mengerti tentang Soeharto. Saya jusru kagum dengan ‘ide’ yang tiba-tiba berkelebat dalam benak kreatornya. Ide inilah yang belakangan menjadi sangat mahal dan bisa menghasilkan duit. Saya yakin TEMPO tidak dalam kapasitas mengejek atau mendiskreditkan suatu kelompok tertentu ketika memutuskan membuat cover itu. TEMPO juga, saya percaya, sangat berhati-hati dalam berbagi ilmu dan berita kepada khalayak. Insiden ditonjoknya Bambang Harimurti
–pemimpin redaksi ketika itu- dalam kasus diturunkannya berita tentang terbakarnya Pasar Tanah Abang dan konon melibatkan Pengusaha Tomy Winata, rasanya sudah cukup menjadi pelajaran berharga. Ide brilian cover dengan versi The Last Supper itulah yang sungguh saya kagumi. Maka, tidak berlebihan bila Pendeta Daniel Taruli mengatakan, “….menghadapi sindiran majalah itu, saya dan kita seharusnya tersenyum (meski dengan muka memerah) dan bukannya marah-marah. Apalagi tanpa membaca laporan yang ada di balik cover majalah itu”. Anda tepat, Pak Pendeta. Selain beriman kita kudu dewasa dalam menyikapi sesuatu, bukan begitu?
Semarang, 28 Feb 2008


No comments:
Post a Comment