Minggu, seperti biasa, Jogja selalu gerah. Menampik dua kali ajakan untuk nonton sungguh tidak bijaksana. Kami berangkat, meski, jujur saya tak punya semangat untuk menonton film komedi yang ringkasannya sedikit sudah saya baca di koran.
Saya keliru, penilaian pribadi selalu egois dan tak serta merta cocok dengan apa yang tersaji di depan mata. Adegan dibuka oleh Tora Sudiro yang kelimpungan. Motor tua berpelat AB satu-satunya, alatnya pergi ke tempat kerja, dirampas dengan amat keji oleh kakak kandungnya, Trisno yang diperankan dengan elok oleh Adi Sasono. Motor itu amblas di arena judi. Trisno hanya bilang motornya untuk investasi jangka panjang. Catatan tentang Tora yang memerankan Bambang, bujang miskin ilmu tetapi kaya semangat dan selalu berusaha, melenceng terlalu jauh dari benak saya. Dari rumah saya berpikir Tora yang selama tiga bulan belajar intens dialek dan gaya orang Jogja dengan berteman dengan orang mBatul bakal ’wagu’ membawakan peran itu. Banyak film lain gagal membawa orang Jakarta ketika harus memalih menjadi sosok khas Jogja: sedikit urakan, ceplas-ceplos, dan tak ragu-ragu bilang (maaf) ’asu’ ketika kesal. Tora benar-benar menjelma menjadi B a m b a n g, wong Jogja yang lalu mendapat stigma ndeso. Singkatnya, Tora tampil amat pas. Peran itu begitu merasuk ke raga, polah-tingkah, dan gaya serta omongannya. Tidak kurang, tak berlebihan.
Begitulah, Bambang yang bekerja di sebuah kantor redaksi majalah ibu kota berniat menyampaikan secara langsung idenya pada bos besarnya, seorang lajang siap menikah tanpa pacar, cantik, dan tentu pintar, Ibu Nadia, yang juga dihayati sepenuhnya oleh Marsya Timoty. Dia memang jago mengeksplorasi kemampuannya dan bisa tampil natural namun tetap dengan karakter yang sangat kuat. Nadia juga punya kisah unik. Dia lupa untuk berhubungan dengan laki-laki. Kakaknya (dimainkan oleh Wulan Guritno) sudah berkeluarga meski tak harmonis dan rumahtangganya nyaris kandas. Adiknya melulu pacaran. Inilah yang jadi bahan gunjingan ketika keluarga besarnya berkumpul. Tarzan (komedian gaek) yang berpasangan dengan Cintami Atmanegara yang melakonkan Papa dan Mamanya, justru memberi atmosfer yang kurang menyenangkan. Mereka mendesak dengan tanpa memberi solusi.
Datang juga kesempatan itu. Bambang ditolak tentu saja. Idenya tak lebih dari sampah dan jauh dari spirit majalah tempatnya bekerja. Dan, dia hanya bagian -dalam bahasa Bambang- ’administrasi’ yang kerjanya hanya memfotokopi dan angkat junjung. Di sinilah cerita yang sebenarnya dimulai. Hubungan antar manusia menjadi isu sentral yang bisa diangkat ke permukaan, bahkan sampai ke detail-detailnya.
Kekecewaan Bambang bisa dimengerti. Dia tahu siapa dirinya dan kemampuannya. Pengalamannya hanya sebatas pada pergumulan wong cilik yang ogah menyerah pada nasib. Bila dia berasal dari keluarga melarat, ini jelas skenario yang disiapkan matang oleh penulisnya. Dan dari sinilah konflik itu terbangun dengan tetap konsisten menjaga emosi penonton untuk tetap tertawa, karena jangan lupa, ini film komedi. Trisno, sang kakak, adalah pengangguran, penjudi kelas teri, dan belakangan juga menghamili Ratna (tetangganya dipondokan sempit) tampil beringas menginjak hak orang lain. Bambang jadi bulan-bulanan keberingasan ini. Honornya kerap kali diminta dengan kasar. Inilah ironi. Ketika ada yang mati-matian berjuang untuk sekedar hidup dan berkembang, lingkungan tidak mendukung, bahkan membunuh karakternya. Apa daya, Trisno punya senjata ampuh. Dia selalu berkilah, bahwa karena dialah Bambang bisa bertahan di belantara Jakarta.
Garis nasib seseorang tiada yang tahu selain yang Empunya hidup ini dan orang yang bersangkutan ketika dia gigih ingin merubah. Suatu ketika tim redaksi kelabakan. Sang model yang akan mereka ambil gambarnya alpa untuk datang. Cerita mulai nyambung-mengalir. Bambang yang kebetulan berkelebat sosoknya tertangkap dan jadilah dia model baru yang siap berpose. Apa kata Nadia kemudian? ”Tidak salah kalian memilih Bambang, pemuda dari Djogja itu?” Pertanyaan ini terlontar dengan amat ketus dan pedas. Tak dinyana, klien puas dan e-mail bernada memuji berdatangan. Duit pun mengalir ke kantong Bambang. Kesempatan inilah yang diendus Trisno. Dia datang ke kantor dan menyaru sebagai pihak manajemen yang menaungi Bambang.
Bisa jadi benar omongan orang. Jodoh takkan kemana. Nadia kesengsem pada sosok Bambang meski dia sadar sepenuhnya siapa dirinya dan terbuat dari apa si Bambang. Tidak mungkin. Tetapi mana yang absurd di tangan-Nya? Sang sutradara piawai merekam suasana ini. Kemelut ini disulapnya menjadi ringan-kocak dan seisi gedung terpingkal-pingkal.
Tak ada yang tahu, Bambang sampai pada puncak keruwetan dalam hidupnya. Dia gelisah dan tak nyaman dengan senyum kepalsuan di depan kamera. Panggilannya adalah menulis dan ini pun sampai pada Nadia. Tak selesai di sini. Bambang harus menikahi Ratna yang dalam perutnya kian besar janin akibat ulah Trisno. Dia dipaksa mengutang pada kantornya untuk pernikahan memilukan itu. Apa yang terasa indah berubah menjadi bencana, padahal penonton sudah kadung disuguhi tontonan ’adu ludah’ antara Nadia dan Bambang meski hal ini dijelaskan sebagai riset untuk kepentingan majalahnya. Nadia patah arang, dia sudah telanjur menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan Bambang dan kini Bambang bersiap menikah.
Emosi penonton tetap terjaga meski Tukul tampil buruk dan serasa hanya diperalat untuk menjual film ini dengan memoncong-moncongkan mulutnya. Dia menjadi suami Wulan Guritno yang mewakili laki-laki kaya raya namun minim romantisme dan kasih sayang. Dan dari sanalah benih perselisihan itu bersemi. Cerita kemudian disudahi dengan akhir yang penuh makna. Bambang ogah jadi model dan ini kesulitan baru bagi Trisno yang tetap rakus. Maka suatu hari datanglah Trisno untuk yang kedua kalinya, menanyakan job baru untuk Bambang. Nadia bergeming. Dia sudah muak dengan Trisno (dan juga Bambang). Pas pada saat trisno datang pemotretan wanita hamil oleh model sedang berlangsung. Inilah plot dalam film. Skenario diatur sedemikian rupa sehingga Ratna yang hamil dan dibawa Trisno mendadak-sangat kebetulan ditawarkan oleh Trisno pada Diana. Mendengar nama Ratna, Nadia terperanjat. ”Bukankah Ratna sudah menjadi istri Bambang?” Kali ini Trisno serius. ”Ceritanya panjang....” kata Trisno. Kemudian penonton dibawa kembali pada adegan terpotong ketika akad nikah. Ketika itu Trisno yang (mungkin) sudah berubah membatalkan niatnya dan bertanggungjawab, serta menggantikan posisi Bambang di pelaminan.
Semua terhenyak. Pun saya dan beberapa penonton yang lain. Nadia sadar, ada banyak yang belum dia ketahui tentang Bambang. Cinta lama bersemi kembali. Dia cari Bambang dan disuruhnya membuat tulisan tentang: ’Syah atau tidak berhubungan dengan atasan?’ Bambang mengeja ulang perintah itu. Tawanya meledak ketika dia tahu apa yang Nadia maksud.
Kami tertawa. Andai bukan dalam bioskop, atau dalam pentas teater, saya akan memberi komando untuk bertepuk tangan panjang di penghujung cerita itu. Sesudahnya semua berkemas. Pulang. Namun dari ger-geran itu ada yang musti mendapat jawaban karena pertanyaan itu bisa saja mewakili siapa pun. Karena dalam bahasa yang lain pertanyaan itu bisa saja menjadi: ’Syah atau tidak kere berhubungan dengan yang bukan kere?’
Tidak berlebihan kiranya bila Otomatis Romantis bukan saja masuk dalam genre film komedi. Tetapi lebih tepat berada dalam kelompok tragi komedi karena mampu berbicara gamblang soal tragedi anak manusia dalam bahasa banyolan yang menghibur. Tetapi film tetaplah film. Meski mampu memotret detail kisah manusia, dia tetaplah hiburan yang untuk sementara waktu hanya dapat kita saksikan bila kita membeli tiketnya. Dan kalau ada kawan yang minta ditemani untuk menyaksikannya lagi, mungkin saya takkan menolaknya. Ahh...
Thursday, January 31, 2008
Mengejawantah Indonesia
Dari Ajang BIENNALE JOGJA IX-2007
Memasuki ruang pameran kita seakan memasuki Indonesia yang sedang bergulat dengan ketersediaan pangan, kedodoran. Sepinya suasana bisa menggiring kita pada anggapan bahwa pameran kurang diminati. Bisa jadi publik memang kurang merespon event dua tahunan ini, tetapi lamanya waktu pameran digelar (selama sebulan dan berakhir pada 28 Januari 2008) juga memungkinkan pengunjung sudah mulai ramai pada hari-hari awal dibukanya pameran. Seorang kawan yang datang sendiri sempat merasa ’takut’ berada dalam gedung luas yang memang sepi itu.
Terlepas dari bagaimana pameran ini disorot sedemikian rupa oleh media, panitia yang juga tak luput dari komentar sedikit memojokkan oleh sebagian kalangan, dan polemik yang mengemuka, kehadirannya mampu mewakili zaman yang sarat dengan adegan pen-citra-an. Tepat kiranya bila panitia mengajak untuk ”mengalami keIndonesiaan dengan cara pandang dan cara berpikir baru berkait erat dengan problem dan pergeseran situasi sosial budaya yang melingkupi keseharian kita” sebagaimana tersemat dalam papan yang menyambut setiap tamu yang masuk. Tajuk ’Neo Nation’ yang diangkat sebenarnya juga teriakan untuk menuju ke segala sesuatu yang serba baru: paradigma, habitus, dan pemaknaan. Yang baru di sini, bisa saja yang lama tetapi jauh lebih baik dan kita pakai kembali dengan sentuhan dan nuansa anyar. Maka kemudian ajakan ini menjadi ajang para peserta untuk bebas jumpalitan menafsirkan keadaan. Sebuah mobil lawas sengaja diboyong ke dalam arena, dijempalikkan dengan keempat rodanya setengah terbalik, dan pada kabinnya yang berwarna biru tua diberi coretan putih menyolok. Siapa tidak kenal raksasa produk olah raga itu?
Seni lagi-lagi, bisa menempeleng dengan amat halus dan memaki-maki dengan lembut bak belaian melenakan. Ini dilakukan oleh Komunitas Seni Seringgit dalam lakon ’Habis Gelap Gerhana Bulan Total’ dan ’Neo Wayangism’. Mereka menjejerkan beberapa tokoh wayang dengan didandani cantik dan ganteng ala manusia urban masa kini lengkap dengan atribut yang serba glamor. Pada kelir yang melatari jejeran wayang itu terlihat lingkaran dengan tiga jari-jarinya yang menyerupai berlian berukuran panjang yang semua orang juga mengenalnya. Tak lupa tambahan ’Mbelgedes’ diperjelas untuk mengingatkan kembali merk kesohor itu pada siapa pun yang sanggup membelinya.
Masih dalam spirit yang sama, karya yang diberi judul ’Yellow Skin’ mencoba membandingkan masa dulu dengan hari sekarang ketika sebuah produk merangsek masuk dalam wujud citra. Citra inilah yang kemudian bekerja menstimulasi otak manusia hingga si manusia tergerak untuk mendapatkannya. Citra ini pula yang punya gawe merayu setiap wanita untuk tidak ragu merogoh koceknya. Hasilnya? Tidak jarang kita jumpai tante-tante yang wajahnya mengilap seperti terkelupas, bukan?
Salah satu produsen kaos kenamaan dari Jogja juga terampil mengoplos lelucon dan sindiran menjadi pemandangan aneh. Dengan membawa televisi-televisi-an yang sedang menayangkan artis top manca dalam balutan kebaya sedang bernyanyi, sang kreator mengingatkan semua pengunjung untuk tidak pernah lupa pada salah satu produk yang konon menjadi media hiburan jutaan rakyat negeri ini, dengan memberinya merk rekaannya sendiri: TOHBISA. Karya instalasi ini kian lengkap dengan kalimat: ”Kerdja Keras Bagai Koeda, Kedjar Tjitra-tjitra Soegeng Makarja” yang merupakan puncak pemaknaan dari apa yang melingkupi keseharian kita.
Dona Prawita Ari Suta lugas bercerita tentang budaya hari ini yang terus bekerja melampaui batas-batas kesadaran manusia. Dalam karyanya yang berjudul
’Woman/N(e)o Nation’ dengan amat bersahaja Dona menampilkan beberapa tas belanja (dengan media keramik) bergambar pejuang wanita: RA.Kartini dan Bunda Theresa.
Ini belum beberapa potong kalimat yang tergeletak-berserakan begitu saja di lantai yang bisa jadi luput dari perhatian. Padahal, meski ringan dan (mungkin) ditujukan untuk menghibur kalimat-kalimat itu sejatinya begitu tajam menukik. Satu yang masih membekas: ’Belanja Lebih Nikmat daripada Seks’
Bila ada yang sedikit lain barangkali milik I Gusti Ngurah Udiantara. Dia melukis wajah dengan sampah berserakan persis di bawah matanya dan memberinya judul ’Buang di sini’. Apalagi kalau bukan gugatan atas perilaku buruk manusia yang ogah memikirkan lingkungan? Sambil lalu wajah laki-laki dalam lukisan itu biasa-biasa saja. Tetapi perhatikan, ada letih dan gusar yang lebih dominan, bukan?
Demikianlah, BIENNALE Jogja mengajak untuk memasuki Indonesia dari pintu yang memang seharusnya kita lalui. Membaui, merasakan, dan pada gilirannya menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi pada bangsa ini. Lebih nyata, apa yang terjadi pada diri kita. Seorang kawan yang belajar informatika dan kamarnya mirip ruang praktek Mac Giver dalam film yang saya ajak ngobrol soal ini berkomentar, ”...dari ajaran Syekh Siti Jenar yang saya baca, sesungguhnya budaya kita berjalan ke belakang. Hidup ini hanya siksaan karena hidup yang sesungguhnya baru kita dapatkan ketika kita menghadap Tuhan.”
Saya terperanjat, ”ohh, begitu?...”
Tuesday, January 29, 2008
Renungan

Perlunya Mendengar Suara Hati
Dua tulisan terdahulu yang mencoba memberi semacam jalan tengah dalam persoalan yang memang amat aktual saat ini seperti mewakili orang tua masa kini yang memberikan kebebasan sepenuhnya pada anak untuk menjatuhkan pilihan. Kini saya akan mencoba menjelma menjadi Theresia Anjani yang sedang dirundung gundah, antara tetap menjalin hubungan murni berlandaskan cinta kasih dengan Robertus Darmadi yang Sarjana Hukum sekaligus penganggur, mendengarkan ayahnya untuk memilih Alex yang pekerja mapan di sebuah BUMN tetapi berbeda keyakinan, dan mempertimbangkan pilihan ibunya, bujang kaya dan play boy: Bambang Harimawan.
Betapa susahnya hidup di zaman serba belanja seperti saat ini. Ketika pencapaian diukur dengan materi dan ketika keberhasilan seseorang atau keluarga juga dikait-kaitkan dengan materi. Banyak lajang pusing setengah mati untuk mencari pasangan hidup yang ideal. Ada yang berani memberi harga mati untuk sebuah kata yang tidak asing: seiman. Ini jelas tekad yang patut mendapat dukungan dan apresiasi. Akan tetapi, ada banyak yang lalu memilih pindah keyakinan ketika sampai di pintu gerbang rumah tangga, ikut isteri atau ikut suami dengan berbagai alasan. Bahkan tidak sedikit yang memilih asyik menenggelamkan diri dalam rutinitas dan enggan memikirkan untuk berumahtangga meski orang tua sudah berteriak dan dari sisi usia sudah ‘semestinya’. Kenyataan ini kerap terjadi dan adakalanya tidak jauh dari diri kita atau bahkan bisa menimpa diri kita. Tantangan hari depan, kian kompleksnya persoalan di dalam rumah tangga, dan tingkat kebutuhan hidup seperti hantu menyeramkan yang bisa membawa seseorang pada sebuah keputusan tertentu.
Siapa orangnya yang tidak mendambakan kebahagiaan lahir batin? Semua orang akan tunjuk jari atas pertanyaan itu. Tetapi perlu diingat bahwa kebahagiaan seseorang hanya bisa dirasakan dan dihayati sepenuhnya oleh orang yang bersangkutan. Orang lain (dalam konteks ini orang tua juga termasuk) tidak akan pernah bisa menakar pencapaian kebahagiaan anak-anaknya yang sudah memasuki biduk rumah tangga. Kepenuhan materi, tercukupinya semua kebutuhan fisik bukan merupakan indikator kebahagiaan pasangan suami isteri.
Pun keyakinan dan agama. Benar bahwa anak yang di besarkan dalam satu kesatuan keyakinan (baca=agama) di antara kedua orangtuanya akan mendapat banyak kemungkinan untuk tumbuh dan berkembang lebih baik. Tetapi yang dibesarkan oleh kedua orang tua yang berbeda agama dan tetap menghargai perbedaan itu pun, justru berpeluang untuk tumbuh menjadi manusia yang peka, penuh penghargaan terhadap sesama dan perbedaan, dan kelak berpeluang untuk tidak egois ketika sudah terjun di dalam masyarakat.
Itulah mengapa, saya minta dengan hormat kepada Bapak Ibu sekalian untuk memberikan ruang secukupnya pada saya untuk merdeka terlebih dahulu sebelum saya benar-benar memutuskan. Semua masukan, usulan nama-nama bakal calon, dan sumbang saran serta peringatan di sana-sini saya dengarkan. Sebagai anak inilah bukti bakti saya, mendengarkan dengan sepenuh hati apa kata orang tua.
Akan tetapi, biarlah saya mengembalikan semua pada hati saya. Karena dari sanalah saya akan mencoba mendengarkan suara-Nya. Suara Tuhan sendiri, yang adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Pilihan itu, meski tidak sejalan dengan usulan Bapak atau jauh melenceng dari yang Ibu kehendaki, adalah yang terbaik bagi saya. Soal bagaimana saya bisa hidup, masa depan, dan pendidikan anak-anak saya juga sudah saya pikirkan. Saya sadar sepenuhnya bahwa tidak ada yang bisa hidup dengan hanya bermodalkan cinta saja.
Ke depan kami tidak bisa terlepas dari materi dan kebutuhan yang semakin tidak merendah. Hal ini pun masuk dalam bagian penting pertimbangan dan keputusan yang akan saya ambil. Oleh karena itu semakin saya diberi ruang untuk tidak tertekan, semakin bahagialah saya, dan pada gilirannya yang saya pilih sungguh yang terbaik.
Mengapa saya harus berbuat demikian? Sebab kita tahu, meski Bapak dan Ibu yang bakal punya menantu, tetapi sayalah yang saban hari akan membaui keringatnya, merasakan apa yang ada di dalam dadanya, serta apa yang dia inginkan untuk anak-anaknya. Kami akan menjadi satu daging meski berasal dari dua yang berlainan. Kami akan melebur menjadi utuh meski kami sama sekali berbeda. Kami juga dipanggil untuk saling setia dalam susah dan sedih, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit. Itulah esensi dari perkawinan. Selain tentu saja, kami ‘ditimbali’ untuk menjadi ibu dan bapak dan membesarkan anak-anak yang dititipkan kepada kami.
Keputusan itu tidaklah main-main. Sekali saya keliru, tamatlah harapan saya. Maka kesempatan untuk mempertimbangkan ini menjadi anugerah bagi saya dan akan saya gunakan sebaik-baiknya. Dukungan doa dan restu Bapak Ibu saya nantikan...*)
*) Tulisan yang sama dimuat di majalah UTUSAN edisi Februari 2008
Thursday, January 3, 2008
Catatan Awal Tahun
Seorang wartawan menulis apa yang pernah temannya -yang pernah kuliah filsafat- sampaikan bahwa pergantian tahun hanyalah buah pekerjaan orang yang berhasil mengategorikan waktu, yang ini disebut old dan akan datang disebut new, lalu mendagangkannya. Waktu sebenarnya tidak mengenal perbedaan rupa dan bentuk. Kalau toh ada perbedaan, paling cuma mood, disebabkan proses pendagangan itu tadi. Bahasa kejamnya, orang telah mencipta dagangan baru yakni pergantian waktu: lama menjadi baru, tahun yang sudah lewat menjadi tahun baru.
Inilah barangkali yang menegaskan bahwa era industri sebenarnya sudah dimulai sejak berabad-abad silam. Apa yang sebenarnya orang cari? Sesuatu yang serba baru pada waktu yang baru? Mari mengiyakan dan biarlah kita terseret kesana ke dalam ‘serba baru’ dan mengesampingkan pendapat segelintir orang yang justru bisa dianggap nyleneh di hare gene…
Pada penaggalan Masehi ke 01 pukul 00.00 angka 2007 berganti menjadi 2008. Di koran berton-ton bahan kembang api didatangkan dari luar negeri khusus untuk menyambut angka 2008. Di tempat plesir di Jakarta konon menghabiskan tidak kurang dari 200 juta rupiah -angka yang amat pantas untuk membantu korban tanah longsor di titik kecil di Jateng- hanya untuk pesta kembang api. Ini jelas mewakili zaman ketika pergantian angka yang dirayakan umat manusia di seluruh penjuru dunia ditandai dengan pesta dan segala sesuatu yang meriah. Lihatlah layar kaca, nyaris tidak ada wajah yang tidak memancarkah kebahagiaan di malam pergantian angka itu.
Sementara, akhir Desember selalu sama di beberapa wilayah. Basah. Kira-kira sepekan sebelum angka 2008 benar-benar datang banjir besar akibat luapan Sungai Bengawan Solo melanda Surakarta bagian selatan. Ribuan rumah terendam dan kita bisa membayangkan betapa menderitanya mereka yang rumahnya terendam. Siapa yang tidak ngeri bila tidak kurang tiga kali dalam sepekan banjir datang dan pergi? Perekonomian di Solo nyaris lumpuh dan harga-harga kebutuhan melejit tak terjangkau.
Di Tawang Mangu yang dingin itu, petaka datang tidak mengenal waktu. Baru saja orang-orang berhenti bekerjabakti memperbaiki saluran air yang mampat karena lumpur yang tergerus air, tanah yang sudah berpuluh-puluh tahun seperti melindungi mereka tiba-tiba bergerak, ambrol mengubur mereka hidup-hidup setelah hujan tidak berhenti sejak sore hari. Tangan takTerlihat masih menjangkau beberapa dari mereka. Kerja bakti itu terhenti lantaran lampu mendadak padam. Bila tidak, korban akan jatuh lebih banyak di dini hari yang kelabu itu.
Seorang kawan di Solo tidak lagi sempat membalas sms saya. Sejak pagi kami berjanji untuk bertemu di suatu tempat. Dan karena kendaraan umum yang saya tumpangi amat lambat sampai di tujuan, saya telat. Ruangan tempat dia biasa ngantor tertutup rapat, gelap. Saya bertanya kesana-kemari. “Pulang, Mas. Rumahnya kebanjiran. Baru saja!” Saya hanya mampu terdiam. Hingga kini sengaja saya belum berkirim kabar. Ada rasa kasihan dan terenyuh yang tidak bisa saya wakilkan dengan hanya berkirim sms.
Tercatat puluhan nyawa melayang hanya dalam hitungan detik dan ribuan rumah terendam baik di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kita dibuat miris dengan semua ini. Akhir tahun, ketika sebagian orang siap berpesta, ribuan jiwa justru kedinginan, menderita, dan tempat tinggalnya terendam.
Bersama beberapa kawan saya turut menjadi saksi pergantian angka ini. Di suatu tempat yang (ternyata) malam itu macet, cet. Udara dingin yang pada malam-malam biasanya menusuk tulang, malam itu menjadi hangat menuju panas akibat banyaknya manusia yang ingin merayakan detik-detik peralihan waktu itu. Malam itu saya mungkin mengecewakan kawan yang sengaja datang jauh dari luar kota. Dengan kondisi yang payah karena seharian di belakang stir, dia tetap bersemangat menghabiskan malam. Hasilnya jauh dari yang saya bayangkan dari rumah dan saya ceritakan padanya tentang udara dingin ngangeni dan suasana romantis nan lembut lokasi yang akan kami tuju. Kondisi jalan yang menanjak, berkelok, dan sempit serta berjubelnya pemakai jalan lain membuat perjalanan tersendat. Dia sudah ketar-ketir, mendadak bau kampas kopling menyengat dan dia tahu, sudah saatnya diganti memang. Sampai di atas kami tidak bisa kemana-mana. Mundur terbentur dan bisa mencelakai yang lain, maju mampat oleh kendaraan lain. Kami turun. Bertiga kami jalan kaki berusaha menuju puncak yang katanya menjadi pusat acara pergantian angka itu sementara kawan yang satu lagi memilih tidak turun, entah apa yang ada di kepalanya. Belum lagi sampai waktu sudah menunjuk angka 00.00. Kami berhenti, mencoba melihat di bawah pada warna-warni kembang api yang tampak berpijar indah. Kami tersenyum. Tak ada kalimat yang terdengar. Bersalaman. Sudah. Selesai. Kami masuk mobil dan menunggu kemacetan cair hingga pukul 02.00.
Tidak ada yang terlalu istimewa. Bila ada sesuatu yang lain boleh jadi karena masing-masing pribadi punya rasa yang berbeda dalam merayakan perubahan angka itu.
Saya salah satu orangnya yang merasa biasa-biasa saja. Entah mengapa. Ini perubahan angka yang kesekian yang saya saksikan yang mengingatkan saya pada satu hal: waktu tidak pernah berhenti.
Sekitar tiga tahun lalu ketika sepucuk surat saya tulis untuk teman-teman sebagai bahasa pamitan saya, saya mengatakan ingin merampungkan PR saya dan untuk itu saya harus meninggalkan mereka. Kini, tiga tahun sejak itu pekerjaan rumah itu masih utuh. Utuh.
Saya seperti tidak berdaya untuk berubah sedangkan saya tahu waktu terus berubah (meski katanya tidak berbentuk). Membuat kecewa orang-orang yang dengan tulus mengasihi saya, seperti tidak bisa saya tanggalkan. Membuat sakit hati orang-orang yang (boleh jadi) mencintai saya lengkap dengan kekurangan yang melekat, masih saya lakukan meski mati-matian saya coba hindari. Teringat ini hati saya menangis.
Perihal beban berat yang saya tanggung, saya yang mencipta dan tidak mungkin saya sesali meski ada yang menyesali sekedar sebuah pertemuan dan saling berbagi. Berat memang dan semakin berat ketika saya hayati dan rasakan. Bila ada secuil keyakinan yang masih tersisa, ini karena Dia memanggil justru yang letih dan berbeban berat, bukan yang lain. Saya akan berusaha semampu saya untuk berjejal dalam antrian panjang di pintu amat sempit itu. Terjepit. Biarlah.
Kali ini saya tidak akan muluk-muluk. Di angka baru ini, saya hanya ingin kian dekat dengan-Nya. Itu saja. Meski saya tahu, saya tidak pantas…
Yogya yang basah, awal 2008
Inilah barangkali yang menegaskan bahwa era industri sebenarnya sudah dimulai sejak berabad-abad silam. Apa yang sebenarnya orang cari? Sesuatu yang serba baru pada waktu yang baru? Mari mengiyakan dan biarlah kita terseret kesana ke dalam ‘serba baru’ dan mengesampingkan pendapat segelintir orang yang justru bisa dianggap nyleneh di hare gene…
Pada penaggalan Masehi ke 01 pukul 00.00 angka 2007 berganti menjadi 2008. Di koran berton-ton bahan kembang api didatangkan dari luar negeri khusus untuk menyambut angka 2008. Di tempat plesir di Jakarta konon menghabiskan tidak kurang dari 200 juta rupiah -angka yang amat pantas untuk membantu korban tanah longsor di titik kecil di Jateng- hanya untuk pesta kembang api. Ini jelas mewakili zaman ketika pergantian angka yang dirayakan umat manusia di seluruh penjuru dunia ditandai dengan pesta dan segala sesuatu yang meriah. Lihatlah layar kaca, nyaris tidak ada wajah yang tidak memancarkah kebahagiaan di malam pergantian angka itu.
Sementara, akhir Desember selalu sama di beberapa wilayah. Basah. Kira-kira sepekan sebelum angka 2008 benar-benar datang banjir besar akibat luapan Sungai Bengawan Solo melanda Surakarta bagian selatan. Ribuan rumah terendam dan kita bisa membayangkan betapa menderitanya mereka yang rumahnya terendam. Siapa yang tidak ngeri bila tidak kurang tiga kali dalam sepekan banjir datang dan pergi? Perekonomian di Solo nyaris lumpuh dan harga-harga kebutuhan melejit tak terjangkau.
Di Tawang Mangu yang dingin itu, petaka datang tidak mengenal waktu. Baru saja orang-orang berhenti bekerjabakti memperbaiki saluran air yang mampat karena lumpur yang tergerus air, tanah yang sudah berpuluh-puluh tahun seperti melindungi mereka tiba-tiba bergerak, ambrol mengubur mereka hidup-hidup setelah hujan tidak berhenti sejak sore hari. Tangan takTerlihat masih menjangkau beberapa dari mereka. Kerja bakti itu terhenti lantaran lampu mendadak padam. Bila tidak, korban akan jatuh lebih banyak di dini hari yang kelabu itu.
Seorang kawan di Solo tidak lagi sempat membalas sms saya. Sejak pagi kami berjanji untuk bertemu di suatu tempat. Dan karena kendaraan umum yang saya tumpangi amat lambat sampai di tujuan, saya telat. Ruangan tempat dia biasa ngantor tertutup rapat, gelap. Saya bertanya kesana-kemari. “Pulang, Mas. Rumahnya kebanjiran. Baru saja!” Saya hanya mampu terdiam. Hingga kini sengaja saya belum berkirim kabar. Ada rasa kasihan dan terenyuh yang tidak bisa saya wakilkan dengan hanya berkirim sms.
Tercatat puluhan nyawa melayang hanya dalam hitungan detik dan ribuan rumah terendam baik di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kita dibuat miris dengan semua ini. Akhir tahun, ketika sebagian orang siap berpesta, ribuan jiwa justru kedinginan, menderita, dan tempat tinggalnya terendam.
Bersama beberapa kawan saya turut menjadi saksi pergantian angka ini. Di suatu tempat yang (ternyata) malam itu macet, cet. Udara dingin yang pada malam-malam biasanya menusuk tulang, malam itu menjadi hangat menuju panas akibat banyaknya manusia yang ingin merayakan detik-detik peralihan waktu itu. Malam itu saya mungkin mengecewakan kawan yang sengaja datang jauh dari luar kota. Dengan kondisi yang payah karena seharian di belakang stir, dia tetap bersemangat menghabiskan malam. Hasilnya jauh dari yang saya bayangkan dari rumah dan saya ceritakan padanya tentang udara dingin ngangeni dan suasana romantis nan lembut lokasi yang akan kami tuju. Kondisi jalan yang menanjak, berkelok, dan sempit serta berjubelnya pemakai jalan lain membuat perjalanan tersendat. Dia sudah ketar-ketir, mendadak bau kampas kopling menyengat dan dia tahu, sudah saatnya diganti memang. Sampai di atas kami tidak bisa kemana-mana. Mundur terbentur dan bisa mencelakai yang lain, maju mampat oleh kendaraan lain. Kami turun. Bertiga kami jalan kaki berusaha menuju puncak yang katanya menjadi pusat acara pergantian angka itu sementara kawan yang satu lagi memilih tidak turun, entah apa yang ada di kepalanya. Belum lagi sampai waktu sudah menunjuk angka 00.00. Kami berhenti, mencoba melihat di bawah pada warna-warni kembang api yang tampak berpijar indah. Kami tersenyum. Tak ada kalimat yang terdengar. Bersalaman. Sudah. Selesai. Kami masuk mobil dan menunggu kemacetan cair hingga pukul 02.00.
Tidak ada yang terlalu istimewa. Bila ada sesuatu yang lain boleh jadi karena masing-masing pribadi punya rasa yang berbeda dalam merayakan perubahan angka itu.
Saya salah satu orangnya yang merasa biasa-biasa saja. Entah mengapa. Ini perubahan angka yang kesekian yang saya saksikan yang mengingatkan saya pada satu hal: waktu tidak pernah berhenti.
Sekitar tiga tahun lalu ketika sepucuk surat saya tulis untuk teman-teman sebagai bahasa pamitan saya, saya mengatakan ingin merampungkan PR saya dan untuk itu saya harus meninggalkan mereka. Kini, tiga tahun sejak itu pekerjaan rumah itu masih utuh. Utuh.
Saya seperti tidak berdaya untuk berubah sedangkan saya tahu waktu terus berubah (meski katanya tidak berbentuk). Membuat kecewa orang-orang yang dengan tulus mengasihi saya, seperti tidak bisa saya tanggalkan. Membuat sakit hati orang-orang yang (boleh jadi) mencintai saya lengkap dengan kekurangan yang melekat, masih saya lakukan meski mati-matian saya coba hindari. Teringat ini hati saya menangis.
Perihal beban berat yang saya tanggung, saya yang mencipta dan tidak mungkin saya sesali meski ada yang menyesali sekedar sebuah pertemuan dan saling berbagi. Berat memang dan semakin berat ketika saya hayati dan rasakan. Bila ada secuil keyakinan yang masih tersisa, ini karena Dia memanggil justru yang letih dan berbeban berat, bukan yang lain. Saya akan berusaha semampu saya untuk berjejal dalam antrian panjang di pintu amat sempit itu. Terjepit. Biarlah.
Kali ini saya tidak akan muluk-muluk. Di angka baru ini, saya hanya ingin kian dekat dengan-Nya. Itu saja. Meski saya tahu, saya tidak pantas…
Yogya yang basah, awal 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)

