Mari kembali pada awal mula niat bertamu ini.
Suatu hari seorang kawan yang bekerja pada sebuah majalah bulanan memberiku edisi terbaru majalahnya. Tanpa basa-basi kusambar sebelum dia menyerahkan. Dari bacaan gratisan itu aku baru tahu ada sesuatu di dalamnya. Pertama, seseorang yang tulisannya menjadi menu wajib setiap hari Minggu dikupas tuntas sosoknya. Wajah yang sering kucoba lukiskan, meleset terlalu jauh dari foto terbaru orang ini. Tulisannya yang nakal, menggelitik, adakalanya sedikit nyrempet-nyrempet, namun sarat dengan sentuhan-sentuhan kemanusiaan, rasanya memang pas ditulis oleh seseorang yang gambar wajahnya sedang kuamati. Akhirnya sampai juga pencarianku meski dia hanya berupa lembar tipis kertas majalah.
Kedua, seseorang yang karyanya mampu menembus ruang-ruang sempit kehidupan manusia dan mengajak kita masuk dalam ruang sempit itu; mengenal, memahami, hingga pada gilirannya kita digiring untuk memutuskan sendiri yang terbaik bagi kita, ada di dalamnya. Sosoknya sering aku kaitkan dengan nama besar yang kini dia sandang. Pun aku salah menggambarnya. Tuhan hanya memberi dia ruang yang tidak seberapa besar. Akan tetapi Tuhan anugerahkan sesuatu yang mungkin hanya untuknya. Dari sanalah cerita tentang Lipstik Dalam Tas Doni mengalir, mengenalkan kita pada yang semula tidak kita kenal dan mengenalkan kita pada diri sendiri. Doni harus mengakui di depan istrinya, dia tidak sepenuhnya laki-laki. Juga tentang Tina yang diam. Dalam diamnya ada gumpalan amarah yang siap meletup menghancurkan semua sandiwara yang lakoni mamanya. Ah, lagi-lagi perselingkuhan. Ini seperti jamak di zaman sekarang.
Tidak berlebihan bila Budi Dharma mengatakan “….namun, apa pun yang terjadi, dia tidak lepas dari aspirasi perempuan modern, yaitu dilema antara perempuan yang harus mandiri dan perempuan yang harus tunduk pada tradisi.”
Aku harus bertemu denganmu, Mbak….
Kami berbincang di teras. Ada kelegaan yang tidak bisa terkatakan bila pada akhirnya aku dapat bertemu dengan seseorang yang sangat aku kagumi.
Hujan seakan tahu, hari sudah bertangkat malam dan kami harus pulang.
Malang, Desember 2007
Di kediaman Ratna Indraswari Ibrahim


No comments:
Post a Comment