Bersuara adalah hak bagi setiap orang dan pada akhirnya zaman mengantar pada kesempatan bagi semua orang untuk bersuara. Masih segar dalam ingatan ketika sebuah mingguan terkemuka negeri ini terbentur kokohnya tembok ‘birokrasi’. Pembredelan pun marak terjadi. Yang mencoba lantang dibungkam dan yang berusaha berteriak diberangus. Ketika itu pula, kebenaran seolah ditutupi dan kreativitas sengaja dimandulkan. Sampailah kini, ketika kita boleh melihat yang benar tetaplah benar dan yang keliru tetap tidak bisa dibenarkan. Budaya pada gilirannya akan menggeser banyak hal, tidak terkecuali kebiasaan manusia penghuni jagat ini. Masih juga kabar paling anyar, ketika seorang mantan menteri yang merasa dizolimi membuat semacam pledoi yang dipublikasikan melalui blog pribadinya tidak lama setelah dia dilengserkan. Dengan lugas sang mantan menteri itu mengatakan bahwa ada banyak hal yang tidak sampai ke publik. Boleh jadi yang ditulisnya bukan mewakili ambisinya untuk merebut kembali kursi empuk itu, tetapi lebih pada niatnya membeberkan semua yang terjadi, dialami, dan dirasakannya. Sebenar-benarnya. Blog sudah menjadi ajang bagi sebagian orang untuk berbagi. Dia juga mampu menjadi tempat untuk menampung teriakan, umpatan, dan makian bagi sebagian orang yang tidak puas terhadap sesuatu, kebijakan pemerintah misalnya. Pendeknya, dia mampu merepresentasikan si pemiliknya. Sah-sah saja. Dan tidak ada yang keliru di sini.
Atas pertimbangan inilah yang tidak ada saya adakan. Yang semula saya simpan saya keluarkan. Yang tadinya tiada dan belum ada saya adakan. Supaya menjadi ada.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment