Apa yang aku bisa lakukan saat ini?
Selain sedikit bercerita, tak ada
Maka dari sinilah kumulai cerita itu…
Kami duduk berdua. Tak hirau beberapa pasang kaki berisik menyentuh lantai.
Boleh jadi dia suka ngobrol denganku. Ada binar-binar semangat yang dapat kutangkap setiap aku melihat matanya.
“Belum lama aku mendapat tawaran di Jakarta,” kalimat ini nyambung dengan topik kami sebelumnya.
“Tetapi aku menolak tawaran itu,” lanjutnya kemudian. Aku belum paham ke mana ia akan membawa arah pembicaraan.
“Aku bilang pada calon bosku, perusahaan Bapak bisa saja membayar tenaga dan pikiran saya, tetapi perusahaan Bapak tidak bakal sanggup membayar biaya psikologis yang saya butuhkan bila saya hidup di Jakarta.”
Aku tertegun beberapa saat dengan tetap berusaha memahami tatapan matanya…
Pikiranku terbang ke sebuah kota kecil yang pengap, Serang. Kuhabiskan waktuku di sana. Hingga suatu saat aku menemukan diriku yang compang-camping.
Angkuh, barangkali itulah label yang pas buatku. Ketika teman-teman lain sibuk mengurus segala tetek-bengeknya untuk memperoleh rumah dan sepeda motor, aku malahan gelisah. Gelisah untuk pulang. Kegelisahan ini pula yang pada akhirnya mengantarku meninggalkan Cilegon meski sejujurnya, separuh hatiku (ketika itu) masih tertinggal di sana. Dan sebagai pengumuman, kegelisahan itu telah merampas dua tahun perjalananku.
Impianku tidak muluk-muluk, menghabiskan sisa hidupku di Jogja sembari berusaha merubah nasib. Entah mengapa, hingga kini masih teronggok keyakinan bahwa Jogja bakal memberiku sesuatu yang sublim. Selain, -ini alasan yang paling tidak bermutu- aku ingin lebih dekat dengan seni dan budaya, syukur-syukur bisa kerasukan olehnya.
Ah, bukankah yang sublim menjadi terlalu mahal? Ya, amat mahal bahkan hingga tak lagi bisa ditukar dengan materi. Pesangonku habis untuk memburu kebahagiaan sementara dan bisnis kecil yang emosional itu. (Lagi-lagi) di Jakarta kubayar semua kesenangan yang ada di depan mata, di Serang sampai perlu pinjam rumah teman untuk bisa berduaan, dan di Jogja usaha kecilku gagal total karena tak terurus dan sedikit rezeki yang tersisa ludes.
Ludes tuntas hingga untuk punya sepeda motor butut pun harus berutang. Aku hanya mampu terdiam kala itu, teringat impian dan niatku untuk melanjutkan belajar.
Sampai di sini aku teringat pada suatu malam ketika seorang sahabat mengggedor hatiku, “ketika kamu merasa terpuruk menunduklah! Lihatlah mereka, ada banyak yang jauh lebih menderita dari kita, lebih terpuruk dari kita. Dan selagi kamu bermimpi, tengadahkan kepalamu agar kamu belajar melihat bukan pada yang di bawah, tetapi pada yang di atas.”
Baik, aku menuruti nasehatmu. Dengan menunduk aku bisa melihat keadaan sesama yang menderita, yang terpuruk. Dengan menunduk aku bisa sedikit bersyukur atas semua yang sudah kuperoleh. Berbagai peristiwa, kesempatan, kehadiran orang-orang terkasih, hingga sepeda motor butut yang meski harus kudapatkan dengan berutang. Apa yang tak bisa disyukuri? Tidak ada! Berbagai peristiwa pada akhirnya membuatku belajar. Kesempatan yang datang pada gilirannya mampu melegakan dahagaku. Orang-orang terkasih pada waktunya menguatkanku. Dan sepeda motor butut itu pada akhirnya bakal menjadi sejarah karena sanggup mengantarku menuju Solo, Semarang, Salatiga dan menjadikan aku bertahan hingga detik ini untuk terus berjuang. Ia juga, dengan setia, membawaku bertemu para dewa pujaanku: keyakinan, harapan, serta sekali lagi, impian kecilku...
Menjelang aku terlelap tanpa berdoa, 28 Februari 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


5 comments:
semoga impianmu bisa kau raih. sukses bung!
semoga mimpi basahmu jadi kenyataan.
Pak Anton,Ceritane Dowo Tenan arep Moco wae memeng...
mas, semoga aja commentku masuk.. ehmm memang cinta ada dmn2 tp memilihnya itu yang susah!! pye yo.. hatiku yang blm sreg... geetu deyy... wis! wait 'n see next year yoo.. msh sng mimpi basah?? hwahahaha
Masuk...maturnuwun.
Mba'...sing jeneng katresnan sejati mono pancen ora baen-baen. Ora saben uwong bisa ngrasakake.
Nanging kudu terus diupaya. Terus. Lan terus...
Salam;
Gunt.Ant
Post a Comment