Thursday, January 31, 2008

Menyaksi Tragedi di Otomatis Romantis

Minggu, seperti biasa, Jogja selalu gerah. Menampik dua kali ajakan untuk nonton sungguh tidak bijaksana. Kami berangkat, meski, jujur saya tak punya semangat untuk menonton film komedi yang ringkasannya sedikit sudah saya baca di koran.


Saya keliru, penilaian pribadi selalu egois dan tak serta merta cocok dengan apa yang tersaji di depan mata. Adegan dibuka oleh Tora Sudiro yang kelimpungan. Motor tua berpelat AB satu-satunya, alatnya pergi ke tempat kerja, dirampas dengan amat keji oleh kakak kandungnya, Trisno yang diperankan dengan elok oleh Adi Sasono. Motor itu amblas di arena judi. Trisno hanya bilang motornya untuk investasi jangka panjang. Catatan tentang Tora yang memerankan Bambang, bujang miskin ilmu tetapi kaya semangat dan selalu berusaha, melenceng terlalu jauh dari benak saya. Dari rumah saya berpikir Tora yang selama tiga bulan belajar intens dialek dan gaya orang Jogja dengan berteman dengan orang mBatul bakal ’wagu’ membawakan peran itu. Banyak film lain gagal membawa orang Jakarta ketika harus memalih menjadi sosok khas Jogja: sedikit urakan, ceplas-ceplos, dan tak ragu-ragu bilang (maaf) ’asu’ ketika kesal. Tora benar-benar menjelma menjadi B a m b a n g, wong Jogja yang lalu mendapat stigma ndeso. Singkatnya, Tora tampil amat pas. Peran itu begitu merasuk ke raga, polah-tingkah, dan gaya serta omongannya. Tidak kurang, tak berlebihan.


Begitulah, Bambang yang bekerja di sebuah kantor redaksi majalah ibu kota berniat menyampaikan secara langsung idenya pada bos besarnya, seorang lajang siap menikah tanpa pacar, cantik, dan tentu pintar, Ibu Nadia, yang juga dihayati sepenuhnya oleh Marsya Timoty. Dia memang jago mengeksplorasi kemampuannya dan bisa tampil natural namun tetap dengan karakter yang sangat kuat. Nadia juga punya kisah unik. Dia lupa untuk berhubungan dengan laki-laki. Kakaknya (dimainkan oleh Wulan Guritno) sudah berkeluarga meski tak harmonis dan rumahtangganya nyaris kandas. Adiknya melulu pacaran. Inilah yang jadi bahan gunjingan ketika keluarga besarnya berkumpul. Tarzan (komedian gaek) yang berpasangan dengan Cintami Atmanegara yang melakonkan Papa dan Mamanya, justru memberi atmosfer yang kurang menyenangkan. Mereka mendesak dengan tanpa memberi solusi.


Datang juga kesempatan itu. Bambang ditolak tentu saja. Idenya tak lebih dari sampah dan jauh dari spirit majalah tempatnya bekerja. Dan, dia hanya bagian -dalam bahasa Bambang- ’administrasi’ yang kerjanya hanya memfotokopi dan angkat junjung. Di sinilah cerita yang sebenarnya dimulai. Hubungan antar manusia menjadi isu sentral yang bisa diangkat ke permukaan, bahkan sampai ke detail-detailnya.


Kekecewaan Bambang bisa dimengerti. Dia tahu siapa dirinya dan kemampuannya. Pengalamannya hanya sebatas pada pergumulan wong cilik yang ogah menyerah pada nasib. Bila dia berasal dari keluarga melarat, ini jelas skenario yang disiapkan matang oleh penulisnya. Dan dari sinilah konflik itu terbangun dengan tetap konsisten menjaga emosi penonton untuk tetap tertawa, karena jangan lupa, ini film komedi. Trisno, sang kakak, adalah pengangguran, penjudi kelas teri, dan belakangan juga menghamili Ratna (tetangganya dipondokan sempit) tampil beringas menginjak hak orang lain. Bambang jadi bulan-bulanan keberingasan ini. Honornya kerap kali diminta dengan kasar. Inilah ironi. Ketika ada yang mati-matian berjuang untuk sekedar hidup dan berkembang, lingkungan tidak mendukung, bahkan membunuh karakternya. Apa daya, Trisno punya senjata ampuh. Dia selalu berkilah, bahwa karena dialah Bambang bisa bertahan di belantara Jakarta.


Garis nasib seseorang tiada yang tahu selain yang Empunya hidup ini dan orang yang bersangkutan ketika dia gigih ingin merubah. Suatu ketika tim redaksi kelabakan. Sang model yang akan mereka ambil gambarnya alpa untuk datang. Cerita mulai nyambung-mengalir. Bambang yang kebetulan berkelebat sosoknya tertangkap dan jadilah dia model baru yang siap berpose. Apa kata Nadia kemudian? ”Tidak salah kalian memilih Bambang, pemuda dari Djogja itu?” Pertanyaan ini terlontar dengan amat ketus dan pedas. Tak dinyana, klien puas dan e-mail bernada memuji berdatangan. Duit pun mengalir ke kantong Bambang. Kesempatan inilah yang diendus Trisno. Dia datang ke kantor dan menyaru sebagai pihak manajemen yang menaungi Bambang.


Bisa jadi benar omongan orang. Jodoh takkan kemana. Nadia kesengsem pada sosok Bambang meski dia sadar sepenuhnya siapa dirinya dan terbuat dari apa si Bambang. Tidak mungkin. Tetapi mana yang absurd di tangan-Nya? Sang sutradara piawai merekam suasana ini. Kemelut ini disulapnya menjadi ringan-kocak dan seisi gedung terpingkal-pingkal.


Tak ada yang tahu, Bambang sampai pada puncak keruwetan dalam hidupnya. Dia gelisah dan tak nyaman dengan senyum kepalsuan di depan kamera. Panggilannya adalah menulis dan ini pun sampai pada Nadia. Tak selesai di sini. Bambang harus menikahi Ratna yang dalam perutnya kian besar janin akibat ulah Trisno. Dia dipaksa mengutang pada kantornya untuk pernikahan memilukan itu. Apa yang terasa indah berubah menjadi bencana, padahal penonton sudah kadung disuguhi tontonan ’adu ludah’ antara Nadia dan Bambang meski hal ini dijelaskan sebagai riset untuk kepentingan majalahnya. Nadia patah arang, dia sudah telanjur menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan Bambang dan kini Bambang bersiap menikah.


Emosi penonton tetap terjaga meski Tukul tampil buruk dan serasa hanya diperalat untuk menjual film ini dengan memoncong-moncongkan mulutnya. Dia menjadi suami Wulan Guritno yang mewakili laki-laki kaya raya namun minim romantisme dan kasih sayang. Dan dari sanalah benih perselisihan itu bersemi. Cerita kemudian disudahi dengan akhir yang penuh makna. Bambang ogah jadi model dan ini kesulitan baru bagi Trisno yang tetap rakus. Maka suatu hari datanglah Trisno untuk yang kedua kalinya, menanyakan job baru untuk Bambang. Nadia bergeming. Dia sudah muak dengan Trisno (dan juga Bambang). Pas pada saat trisno datang pemotretan wanita hamil oleh model sedang berlangsung. Inilah plot dalam film. Skenario diatur sedemikian rupa sehingga Ratna yang hamil dan dibawa Trisno mendadak-sangat kebetulan ditawarkan oleh Trisno pada Diana. Mendengar nama Ratna, Nadia terperanjat. ”Bukankah Ratna sudah menjadi istri Bambang?” Kali ini Trisno serius. ”Ceritanya panjang....” kata Trisno. Kemudian penonton dibawa kembali pada adegan terpotong ketika akad nikah. Ketika itu Trisno yang (mungkin) sudah berubah membatalkan niatnya dan bertanggungjawab, serta menggantikan posisi Bambang di pelaminan.


Semua terhenyak. Pun saya dan beberapa penonton yang lain. Nadia sadar, ada banyak yang belum dia ketahui tentang Bambang. Cinta lama bersemi kembali. Dia cari Bambang dan disuruhnya membuat tulisan tentang: ’Syah atau tidak berhubungan dengan atasan?’ Bambang mengeja ulang perintah itu. Tawanya meledak ketika dia tahu apa yang Nadia maksud.


Kami tertawa. Andai bukan dalam bioskop, atau dalam pentas teater, saya akan memberi komando untuk bertepuk tangan panjang di penghujung cerita itu. Sesudahnya semua berkemas. Pulang. Namun dari ger-geran itu ada yang musti mendapat jawaban karena pertanyaan itu bisa saja mewakili siapa pun. Karena dalam bahasa yang lain pertanyaan itu bisa saja menjadi: ’Syah atau tidak kere berhubungan dengan yang bukan kere?’


Tidak berlebihan kiranya bila Otomatis Romantis bukan saja masuk dalam genre film komedi. Tetapi lebih tepat berada dalam kelompok tragi komedi karena mampu berbicara gamblang soal tragedi anak manusia dalam bahasa banyolan yang menghibur. Tetapi film tetaplah film. Meski mampu memotret detail kisah manusia, dia tetaplah hiburan yang untuk sementara waktu hanya dapat kita saksikan bila kita membeli tiketnya. Dan kalau ada kawan yang minta ditemani untuk menyaksikannya lagi, mungkin saya takkan menolaknya. Ahh...

No comments: