Thursday, January 3, 2008

Catatan Awal Tahun

Seorang wartawan menulis apa yang pernah temannya -yang pernah kuliah filsafat- sampaikan bahwa pergantian tahun hanyalah buah pekerjaan orang yang berhasil mengategorikan waktu, yang ini disebut old dan akan datang disebut new, lalu mendagangkannya. Waktu sebenarnya tidak mengenal perbedaan rupa dan bentuk. Kalau toh ada perbedaan, paling cuma mood, disebabkan proses pendagangan itu tadi. Bahasa kejamnya, orang telah mencipta dagangan baru yakni pergantian waktu: lama menjadi baru, tahun yang sudah lewat menjadi tahun baru.

Inilah barangkali yang menegaskan bahwa era industri sebenarnya sudah dimulai sejak berabad-abad silam. Apa yang sebenarnya orang cari? Sesuatu yang serba baru pada waktu yang baru? Mari mengiyakan dan biarlah kita terseret kesana ke dalam ‘serba baru’ dan mengesampingkan pendapat segelintir orang yang justru bisa dianggap nyleneh di hare gene…

Pada penaggalan Masehi ke 01 pukul 00.00 angka 2007 berganti menjadi 2008. Di koran berton-ton bahan kembang api didatangkan dari luar negeri khusus untuk menyambut angka 2008. Di tempat plesir di Jakarta konon menghabiskan tidak kurang dari 200 juta rupiah -angka yang amat pantas untuk membantu korban tanah longsor di titik kecil di Jateng- hanya untuk pesta kembang api. Ini jelas mewakili zaman ketika pergantian angka yang dirayakan umat manusia di seluruh penjuru dunia ditandai dengan pesta dan segala sesuatu yang meriah. Lihatlah layar kaca, nyaris tidak ada wajah yang tidak memancarkah kebahagiaan di malam pergantian angka itu.

Sementara, akhir Desember selalu sama di beberapa wilayah. Basah. Kira-kira sepekan sebelum angka 2008 benar-benar datang banjir besar akibat luapan Sungai Bengawan Solo melanda Surakarta bagian selatan. Ribuan rumah terendam dan kita bisa membayangkan betapa menderitanya mereka yang rumahnya terendam. Siapa yang tidak ngeri bila tidak kurang tiga kali dalam sepekan banjir datang dan pergi? Perekonomian di Solo nyaris lumpuh dan harga-harga kebutuhan melejit tak terjangkau.
Di Tawang Mangu yang dingin itu, petaka datang tidak mengenal waktu. Baru saja orang-orang berhenti bekerjabakti memperbaiki saluran air yang mampat karena lumpur yang tergerus air, tanah yang sudah berpuluh-puluh tahun seperti melindungi mereka tiba-tiba bergerak, ambrol mengubur mereka hidup-hidup setelah hujan tidak berhenti sejak sore hari. Tangan takTerlihat masih menjangkau beberapa dari mereka. Kerja bakti itu terhenti lantaran lampu mendadak padam. Bila tidak, korban akan jatuh lebih banyak di dini hari yang kelabu itu.

Seorang kawan di Solo tidak lagi sempat membalas sms saya. Sejak pagi kami berjanji untuk bertemu di suatu tempat. Dan karena kendaraan umum yang saya tumpangi amat lambat sampai di tujuan, saya telat. Ruangan tempat dia biasa ngantor tertutup rapat, gelap. Saya bertanya kesana-kemari. “Pulang, Mas. Rumahnya kebanjiran. Baru saja!” Saya hanya mampu terdiam. Hingga kini sengaja saya belum berkirim kabar. Ada rasa kasihan dan terenyuh yang tidak bisa saya wakilkan dengan hanya berkirim sms.

Tercatat puluhan nyawa melayang hanya dalam hitungan detik dan ribuan rumah terendam baik di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kita dibuat miris dengan semua ini. Akhir tahun, ketika sebagian orang siap berpesta, ribuan jiwa justru kedinginan, menderita, dan tempat tinggalnya terendam.

Bersama beberapa kawan saya turut menjadi saksi pergantian angka ini. Di suatu tempat yang (ternyata) malam itu macet, cet. Udara dingin yang pada malam-malam biasanya menusuk tulang, malam itu menjadi hangat menuju panas akibat banyaknya manusia yang ingin merayakan detik-detik peralihan waktu itu. Malam itu saya mungkin mengecewakan kawan yang sengaja datang jauh dari luar kota. Dengan kondisi yang payah karena seharian di belakang stir, dia tetap bersemangat menghabiskan malam. Hasilnya jauh dari yang saya bayangkan dari rumah dan saya ceritakan padanya tentang udara dingin ngangeni dan suasana romantis nan lembut lokasi yang akan kami tuju. Kondisi jalan yang menanjak, berkelok, dan sempit serta berjubelnya pemakai jalan lain membuat perjalanan tersendat. Dia sudah ketar-ketir, mendadak bau kampas kopling menyengat dan dia tahu, sudah saatnya diganti memang. Sampai di atas kami tidak bisa kemana-mana. Mundur terbentur dan bisa mencelakai yang lain, maju mampat oleh kendaraan lain. Kami turun. Bertiga kami jalan kaki berusaha menuju puncak yang katanya menjadi pusat acara pergantian angka itu sementara kawan yang satu lagi memilih tidak turun, entah apa yang ada di kepalanya. Belum lagi sampai waktu sudah menunjuk angka 00.00. Kami berhenti, mencoba melihat di bawah pada warna-warni kembang api yang tampak berpijar indah. Kami tersenyum. Tak ada kalimat yang terdengar. Bersalaman. Sudah. Selesai. Kami masuk mobil dan menunggu kemacetan cair hingga pukul 02.00.

Tidak ada yang terlalu istimewa. Bila ada sesuatu yang lain boleh jadi karena masing-masing pribadi punya rasa yang berbeda dalam merayakan perubahan angka itu.
Saya salah satu orangnya yang merasa biasa-biasa saja. Entah mengapa. Ini perubahan angka yang kesekian yang saya saksikan yang mengingatkan saya pada satu hal: waktu tidak pernah berhenti.

Sekitar tiga tahun lalu ketika sepucuk surat saya tulis untuk teman-teman sebagai bahasa pamitan saya, saya mengatakan ingin merampungkan PR saya dan untuk itu saya harus meninggalkan mereka. Kini, tiga tahun sejak itu pekerjaan rumah itu masih utuh. Utuh.
Saya seperti tidak berdaya untuk berubah sedangkan saya tahu waktu terus berubah (meski katanya tidak berbentuk). Membuat kecewa orang-orang yang dengan tulus mengasihi saya, seperti tidak bisa saya tanggalkan. Membuat sakit hati orang-orang yang (boleh jadi) mencintai saya lengkap dengan kekurangan yang melekat, masih saya lakukan meski mati-matian saya coba hindari. Teringat ini hati saya menangis.

Perihal beban berat yang saya tanggung, saya yang mencipta dan tidak mungkin saya sesali meski ada yang menyesali sekedar sebuah pertemuan dan saling berbagi. Berat memang dan semakin berat ketika saya hayati dan rasakan. Bila ada secuil keyakinan yang masih tersisa, ini karena Dia memanggil justru yang letih dan berbeban berat, bukan yang lain. Saya akan berusaha semampu saya untuk berjejal dalam antrian panjang di pintu amat sempit itu. Terjepit. Biarlah.

Kali ini saya tidak akan muluk-muluk. Di angka baru ini, saya hanya ingin kian dekat dengan-Nya. Itu saja. Meski saya tahu, saya tidak pantas…

Yogya yang basah, awal 2008

No comments: