Thursday, January 31, 2008

Mengejawantah Indonesia















Dari Ajang BIENNALE JOGJA IX-2007

Memasuki ruang pameran kita seakan memasuki Indonesia yang sedang bergulat dengan ketersediaan pangan, kedodoran. Sepinya suasana bisa menggiring kita pada anggapan bahwa pameran kurang diminati. Bisa jadi publik memang kurang merespon event dua tahunan ini, tetapi lamanya waktu pameran digelar (selama sebulan dan berakhir pada 28 Januari 2008) juga memungkinkan pengunjung sudah mulai ramai pada hari-hari awal dibukanya pameran. Seorang kawan yang datang sendiri sempat merasa ’takut’ berada dalam gedung luas yang memang sepi itu.


Terlepas dari bagaimana pameran ini disorot sedemikian rupa oleh media, panitia yang juga tak luput dari komentar sedikit memojokkan oleh sebagian kalangan, dan polemik yang mengemuka, kehadirannya mampu mewakili zaman yang sarat dengan adegan pen-citra-an. Tepat kiranya bila panitia mengajak untuk ”mengalami keIndonesiaan dengan cara pandang dan cara berpikir baru berkait erat dengan problem dan pergeseran situasi sosial budaya yang melingkupi keseharian kita” sebagaimana tersemat dalam papan yang menyambut setiap tamu yang masuk. Tajuk ’Neo Nation’ yang diangkat sebenarnya juga teriakan untuk menuju ke segala sesuatu yang serba baru: paradigma, habitus, dan pemaknaan. Yang baru di sini, bisa saja yang lama tetapi jauh lebih baik dan kita pakai kembali dengan sentuhan dan nuansa anyar. Maka kemudian ajakan ini menjadi ajang para peserta untuk bebas jumpalitan menafsirkan keadaan. Sebuah mobil lawas sengaja diboyong ke dalam arena, dijempalikkan dengan keempat rodanya setengah terbalik, dan pada kabinnya yang berwarna biru tua diberi coretan putih menyolok. Siapa tidak kenal raksasa produk olah raga itu?


Seni lagi-lagi, bisa menempeleng dengan amat halus dan memaki-maki dengan lembut bak belaian melenakan. Ini dilakukan oleh Komunitas Seni Seringgit dalam lakon ’Habis Gelap Gerhana Bulan Total’ dan ’Neo Wayangism’. Mereka menjejerkan beberapa tokoh wayang dengan didandani cantik dan ganteng ala manusia urban masa kini lengkap dengan atribut yang serba glamor. Pada kelir yang melatari jejeran wayang itu terlihat lingkaran dengan tiga jari-jarinya yang menyerupai berlian berukuran panjang yang semua orang juga mengenalnya. Tak lupa tambahan ’Mbelgedes’ diperjelas untuk mengingatkan kembali merk kesohor itu pada siapa pun yang sanggup membelinya.


Masih dalam spirit yang sama, karya yang diberi judul ’Yellow Skin’ mencoba membandingkan masa dulu dengan hari sekarang ketika sebuah produk merangsek masuk dalam wujud citra. Citra inilah yang kemudian bekerja menstimulasi otak manusia hingga si manusia tergerak untuk mendapatkannya. Citra ini pula yang punya gawe merayu setiap wanita untuk tidak ragu merogoh koceknya. Hasilnya? Tidak jarang kita jumpai tante-tante yang wajahnya mengilap seperti terkelupas, bukan?

Salah satu produsen kaos kenamaan dari Jogja juga terampil mengoplos lelucon dan sindiran menjadi pemandangan aneh. Dengan membawa televisi-televisi-an yang sedang menayangkan artis top manca dalam balutan kebaya sedang bernyanyi, sang kreator mengingatkan semua pengunjung untuk tidak pernah lupa pada salah satu produk yang konon menjadi media hiburan jutaan rakyat negeri ini, dengan memberinya merk rekaannya sendiri: TOHBISA. Karya instalasi ini kian lengkap dengan kalimat: ”Kerdja Keras Bagai Koeda, Kedjar Tjitra-tjitra Soegeng Makarja” yang merupakan puncak pemaknaan dari apa yang melingkupi keseharian kita.


Dona Prawita Ari Suta lugas bercerita tentang budaya hari ini yang terus bekerja melampaui batas-batas kesadaran manusia. Dalam karyanya yang berjudul
’Woman/N(e)o Nation’ dengan amat bersahaja Dona menampilkan beberapa tas belanja (dengan media keramik) bergambar pejuang wanita: RA.Kartini dan Bunda Theresa.


Ini belum beberapa potong kalimat yang tergeletak-berserakan begitu saja di lantai yang bisa jadi luput dari perhatian. Padahal, meski ringan dan (mungkin) ditujukan untuk menghibur kalimat-kalimat itu sejatinya begitu tajam menukik. Satu yang masih membekas: ’Belanja Lebih Nikmat daripada Seks’


Bila ada yang sedikit lain barangkali milik I Gusti Ngurah Udiantara. Dia melukis wajah dengan sampah berserakan persis di bawah matanya dan memberinya judul ’Buang di sini’. Apalagi kalau bukan gugatan atas perilaku buruk manusia yang ogah memikirkan lingkungan? Sambil lalu wajah laki-laki dalam lukisan itu biasa-biasa saja. Tetapi perhatikan, ada letih dan gusar yang lebih dominan, bukan?


Demikianlah, BIENNALE Jogja mengajak untuk memasuki Indonesia dari pintu yang memang seharusnya kita lalui. Membaui, merasakan, dan pada gilirannya menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi pada bangsa ini. Lebih nyata, apa yang terjadi pada diri kita. Seorang kawan yang belajar informatika dan kamarnya mirip ruang praktek Mac Giver dalam film yang saya ajak ngobrol soal ini berkomentar, ”...dari ajaran Syekh Siti Jenar yang saya baca, sesungguhnya budaya kita berjalan ke belakang. Hidup ini hanya siksaan karena hidup yang sesungguhnya baru kita dapatkan ketika kita menghadap Tuhan.”
Saya terperanjat, ”ohh, begitu?...”

No comments: