
Perlunya Mendengar Suara Hati
Dua tulisan terdahulu yang mencoba memberi semacam jalan tengah dalam persoalan yang memang amat aktual saat ini seperti mewakili orang tua masa kini yang memberikan kebebasan sepenuhnya pada anak untuk menjatuhkan pilihan. Kini saya akan mencoba menjelma menjadi Theresia Anjani yang sedang dirundung gundah, antara tetap menjalin hubungan murni berlandaskan cinta kasih dengan Robertus Darmadi yang Sarjana Hukum sekaligus penganggur, mendengarkan ayahnya untuk memilih Alex yang pekerja mapan di sebuah BUMN tetapi berbeda keyakinan, dan mempertimbangkan pilihan ibunya, bujang kaya dan play boy: Bambang Harimawan.
Betapa susahnya hidup di zaman serba belanja seperti saat ini. Ketika pencapaian diukur dengan materi dan ketika keberhasilan seseorang atau keluarga juga dikait-kaitkan dengan materi. Banyak lajang pusing setengah mati untuk mencari pasangan hidup yang ideal. Ada yang berani memberi harga mati untuk sebuah kata yang tidak asing: seiman. Ini jelas tekad yang patut mendapat dukungan dan apresiasi. Akan tetapi, ada banyak yang lalu memilih pindah keyakinan ketika sampai di pintu gerbang rumah tangga, ikut isteri atau ikut suami dengan berbagai alasan. Bahkan tidak sedikit yang memilih asyik menenggelamkan diri dalam rutinitas dan enggan memikirkan untuk berumahtangga meski orang tua sudah berteriak dan dari sisi usia sudah ‘semestinya’. Kenyataan ini kerap terjadi dan adakalanya tidak jauh dari diri kita atau bahkan bisa menimpa diri kita. Tantangan hari depan, kian kompleksnya persoalan di dalam rumah tangga, dan tingkat kebutuhan hidup seperti hantu menyeramkan yang bisa membawa seseorang pada sebuah keputusan tertentu.
Siapa orangnya yang tidak mendambakan kebahagiaan lahir batin? Semua orang akan tunjuk jari atas pertanyaan itu. Tetapi perlu diingat bahwa kebahagiaan seseorang hanya bisa dirasakan dan dihayati sepenuhnya oleh orang yang bersangkutan. Orang lain (dalam konteks ini orang tua juga termasuk) tidak akan pernah bisa menakar pencapaian kebahagiaan anak-anaknya yang sudah memasuki biduk rumah tangga. Kepenuhan materi, tercukupinya semua kebutuhan fisik bukan merupakan indikator kebahagiaan pasangan suami isteri.
Pun keyakinan dan agama. Benar bahwa anak yang di besarkan dalam satu kesatuan keyakinan (baca=agama) di antara kedua orangtuanya akan mendapat banyak kemungkinan untuk tumbuh dan berkembang lebih baik. Tetapi yang dibesarkan oleh kedua orang tua yang berbeda agama dan tetap menghargai perbedaan itu pun, justru berpeluang untuk tumbuh menjadi manusia yang peka, penuh penghargaan terhadap sesama dan perbedaan, dan kelak berpeluang untuk tidak egois ketika sudah terjun di dalam masyarakat.
Itulah mengapa, saya minta dengan hormat kepada Bapak Ibu sekalian untuk memberikan ruang secukupnya pada saya untuk merdeka terlebih dahulu sebelum saya benar-benar memutuskan. Semua masukan, usulan nama-nama bakal calon, dan sumbang saran serta peringatan di sana-sini saya dengarkan. Sebagai anak inilah bukti bakti saya, mendengarkan dengan sepenuh hati apa kata orang tua.
Akan tetapi, biarlah saya mengembalikan semua pada hati saya. Karena dari sanalah saya akan mencoba mendengarkan suara-Nya. Suara Tuhan sendiri, yang adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Pilihan itu, meski tidak sejalan dengan usulan Bapak atau jauh melenceng dari yang Ibu kehendaki, adalah yang terbaik bagi saya. Soal bagaimana saya bisa hidup, masa depan, dan pendidikan anak-anak saya juga sudah saya pikirkan. Saya sadar sepenuhnya bahwa tidak ada yang bisa hidup dengan hanya bermodalkan cinta saja.
Ke depan kami tidak bisa terlepas dari materi dan kebutuhan yang semakin tidak merendah. Hal ini pun masuk dalam bagian penting pertimbangan dan keputusan yang akan saya ambil. Oleh karena itu semakin saya diberi ruang untuk tidak tertekan, semakin bahagialah saya, dan pada gilirannya yang saya pilih sungguh yang terbaik.
Mengapa saya harus berbuat demikian? Sebab kita tahu, meski Bapak dan Ibu yang bakal punya menantu, tetapi sayalah yang saban hari akan membaui keringatnya, merasakan apa yang ada di dalam dadanya, serta apa yang dia inginkan untuk anak-anaknya. Kami akan menjadi satu daging meski berasal dari dua yang berlainan. Kami akan melebur menjadi utuh meski kami sama sekali berbeda. Kami juga dipanggil untuk saling setia dalam susah dan sedih, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit. Itulah esensi dari perkawinan. Selain tentu saja, kami ‘ditimbali’ untuk menjadi ibu dan bapak dan membesarkan anak-anak yang dititipkan kepada kami.
Keputusan itu tidaklah main-main. Sekali saya keliru, tamatlah harapan saya. Maka kesempatan untuk mempertimbangkan ini menjadi anugerah bagi saya dan akan saya gunakan sebaik-baiknya. Dukungan doa dan restu Bapak Ibu saya nantikan...*)
*) Tulisan yang sama dimuat di majalah UTUSAN edisi Februari 2008


No comments:
Post a Comment